Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Balada InaTEWS dan Kebencanaan Indonesia

 photo 53743416_10212031783343036_3417828922824327168_n_zpspuystp1b.jpg

Indonesia, negara kepulauan terbesar yang ada di dunia, dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa Indonesia memiliki segala hal untuk menjadi negara yang lebih maju, namun dibalik itu semua tersimpan potensi bencana alam yang cukup besar.

Tsunami, Gempa dan Gunung Api seperti sudah menjadi bagian dalam kehidupan warga Indonesia. Berbagai letusan gunung api besar, tsunami dahsyat hingga gempa yang sangat merusak pernah terjadi dari mulai zaman purba hingga sekarang.

Cincin api (ring of fire) suatu istilah lumrah yang sering kita dengar, suatu area tumbuhnya 75 % seluruh gunung api di dunia dan ini juga merupakan rumah bagi 90 % gempa bumi besar yang pernah terjadi di dunia.

Akhir tahun 2004 ditandai oleh kejadian gempa bumi sangat kuat di Aceh dan menimbulkan tsunami sangat hebat yang membawa korban jiwa dan orang hilang lebih dari seperempat jutadi wilayah sekitar India. Tragedi kemanusiaan akhir tahun tersebut mendapatkan tanggapanluar biasa dari masyarakat Indonesia dan dunia, baik dalam upaya untuk memberikan bantuan bagi masyarakat Aceh dan Sumatera Utara yang terkena musibah maupun usaha untukmengurangi dampak bencana tsunam di waktu mendatang, tidak hanya di wilayah Aceh namun seluruh wilayah Indonesia. Usaha dimaksud adalah dengan pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia atau Indonesia Tsunami Early Warning System yang disingkat inaTEWS.

Kepala Pusat Jaring Kontrol Geodesi Geodinamika (PJKGG) BIG Dr Antonius Bambang Wijanarto berbagi sedikit kisah mengenai latar belakang serta suka duka pengelolaan inaTEWS oleh Badan Informasi Geospasial.

“Apa yang menelatar belakangi adanya inaTEWS?”

Letak indonesia yang berada di zona patahan deduksi patahan dan pertemuan lempeng membuat indonesia rentan akan bencana, dan banyak gema yang berpusat di laut yang memicu terjadinya tsunami, Untuk itu beberapa kementerian lembaga seperti BMKG, BNPB, BIG, BPPT hingga Ristek menganggap perlu adanya sistem peringatan dini tsunami di Indonesia.

“Bagaimana Proses Kerja dari InaTEWS itu sendiri”?

BIG sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan inaTEWS karena kompentensi utamanya berada di BMKG dan BNPB, namun BIG membantu menyediakan sensor sensor aktif, seperti sensor pasang surut (pasut), yang bisa memvalidasi adanya potensi tsunami atau tidak kemudian data tersebut dikirimkan ke K/L terkait.

“Apa Tantangan Pengelolaannya”?

Saat ini tuntutan kita harus terus online selama 24 jam, namun kondisi sekarang baru merekam data setiap menit yang dikirim ke server setiap 5 menit, sekarang kita tingkatkan harus lebih cepat dari itu.

“Rencana dan Harapan kedepan terhadap inaTEWS”?

Berkaca dari tahun lalu seperti adanya bencana di palu dan selat sunda, kita (BIG) saat ini diminta untuk memasang 100 statsiun pasut baru, serta 120 statsiun CORS, khusus untuk early warning dalam tiga tahun kedepan, dengan adanya tambahan tambahan tersebut kami berharap tenaga – tenaga SDM khususnya di BIG dapat lebih profesional dalam menjalankan tugasnya.

Tercatat sebanyak dua puluh statsiun pasut baru, akan dipasang pada pertengahan 2019 wilayah yang rencananya akan dipasang antara lain Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Sulawesi Barat hingga wilayah Maluku. Koordinasi antar kementerian lembaga pun dilakukan untuk menentukan titik titik strategis pemasangan alat tersebut, Meskipun tak ada yang dapat menjawab dengan pasti berapa kebutuhan ideal dari statsiun pasut dan CORS di Indonesia karena wilayah yang sangat luas, namun berbagai upaya terus dilakukan khususnya oleh BIG dan pemerintah dalam membuat sistem mitigasi bencana yang lebih efektif efisien sehingga dapat mengurangi dampak dari bencana yang setiap waktu bisa menghampiri kita semua.(/AR)