Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Bangun Mandailing Natal, Pemkab Susun Peta RTRW bersama BIG

Kabupaten Mandailing Natal merupakan memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Untuk menata potensi-potensi yang ada, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial dalam menyusun peta rencana tata ruang dan wilayah (RTRW).

Deputi Informasi Geospasial Tematik BIG Nurwadjedi menyampaikan peta RTRW disusun untuk membantu analisis pembangunan untuk menentukan wilayah mana yang cocok untuk pertanian, industri, hutan konservatif atau hutan lindung.

“Saat ini BIG diberi tugas untuk menyusun kebijakan satu peta, di antara tema-tema yang diintegrasikan, satu di antaranya adalah peta RTRW. Selain itu, BIG sedang melakukan pemetaan desa di seluruh wilayah Sumatera, semoga akhir tahun selesai dan datanya bisa dimanfaatkan masyarakat,” jelas Nurwadjedi pada kegiatan diseminasi bertajuk Sinergi Bersama menuju Satu Peta di Panyabungan, Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, Kamis, 27 September 2018.

Satrio Jati Kinantyo, Staf Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas (PPTRA) BIG memaparkan potensi daerah Mandailing Natal. Menurutnya, Mandailing Natal memiliki luas 6.621 kilometer persegi dengan garis pantai sejauh 170 kilometer. Secara administratif, Mandailing Natal terdiri dari 23 kecamatan dengan kepadatan sebanyak 527 penduduk per kilometer persegi.

Wilayah Mandailing Natal didominasi oleh pegunungan dan perbukitan. Tutupan lahan diisi dengan hutan, sawah, kebun, dan ladang yang menghasilkan tanaman pangan seperti padi, dan hasil perkebunan seperti karet dan sawit. Selain itu, Mandailing Natal pun memiliki potensi pariwisata terdiri dari pantai hingga sumber air panas di pegunungan.

Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu yang hadir dalam acara tersebut menyambut baik kegiatan diseminasi tersebut. Irawan mengatakan BIG mendorong pengguaan peta terkait dengan pembangunan wilayah.

“Pembangunan daerah ditujukan untuk kedaulatan pangan, maritim, kelautan, industri, dan ekonomi,” tutur Irawan. (AFN/ME)