Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Buoy `Tsunami Merah Putih` Siap Dipasang di Selat Sunda

Jakarta, Berita Geospasial - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memberangkatkan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya IV di Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Rabu, 10 April 2019. Kapal ini mengangkut tim dan peralatan buoy atau alat pendeteksi tsunami yang akan dipasang di Selat Sunda.

Buoy generasi ketiga karya anak bangsa ini diberi nama `Buoy Merah Putih`. Buoy ini akan dipasang di antara Pulau Sertung dan Rakata yang berjarak lima kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, pemasangan buoy Merah Putih ini adalah upaya membangun kembali sistem peringatan dini mitigasi bencana tsunami. Hal ini seusai dengan arahan Presiden Joko Widodo saat rapat terbatas terkait kesiapsiagaan bencana pada Januari 2019.

"Pembuatan buoy generasi ketiga ini memakan waktu dua bulan 10 hari. Alat ini merupakan pembaruan dari buoy generasi pertama dan kedua yang pernah dibuat BPPT pada 2006-2013,” terang Hammam.

Hammam menjelaskan, buoy generasi ketiga ini terdiri dari dua unit. Ada bagian yang mengapung dan juga ocean bottom unit atau unit untuk diletakkan di dasar laut.

Unit buoy yang mengapung di permukaan laut berfungsi memberikan informasi level muka air laut dan mengirimkannya ke pusat penerima di darat. Data level muka laut diperoleh dari sensor yang ada pada perangkat di dasar laut.

Pada pelayaran ini, BPPT juga akan memasang kabel bawah laut atau cable base tsunameter (CBT) sepanjang tiga kilometer dari Pulau Sertung. Pendeteksi tsunami berbasis kabel ini diharapkan memperkuat pengamatan potensi tsunami di Selat Sunda.

Jika anggaran mendukung, BPPT berencana memasang tiga buoy lagi di sejumlah perairan Indonesia yang rawan tsunami, seperti Sumatera bagian barat, Papua, selatan Jawa, dan Sulawesi.

"Indonesia harus punya sensor di seluruh kawasan rawan bencana, pesisir pantai, kawasan industry, dan wisata. Apalagi kita punya cita-cita menjadi poros maritim dunia,” ujar Hammam.

Menurut Hammam, masyarat hanya memiliki golden time 10 menit untuk menyelamatkan diri sebelum tsunami menerjang. Artinya, peringatan dini yang ada harus mampu memberi informasi secara cepat, tepat, dan akurat, sehingga masyarakat memiliki waktu untuk evakuasi.

Hammam menyebut, biaya pembuatan, pemasangan, hingga pemeliharaan satu buoy generasi ketiga selama satu tahun mencapai Rp5 miliar. Karena itulah, BPPT bakal menggandeng pelaku industri strategis untuk pemasangan buoy berikutnya.

Buoy yang dipasang BPPT ini akan melengkapi tide gauge yang dimiliki Badan Informasi Geospasial (BIG). Selama ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan data dari tide gauge untuk memverifikasi prediksi potensi tsunami.

Tide gauge atau biasa disebut stasiut pasang surut (pasut) merupakan serangkaian alat yang terdiri dari beberapa sensor untuk mencatat ketinggian muka air laut. Alat ini terkoneksi dengan perekam data (data logger) yang terhubung kesistem komunikasi data.

Ada tiga sensor yang digunakan pada tide gauge. Pertama, sensor pressure yang bekerja menggunakan prinsip pengukuran tekanan di dalam air.

Kedua, sensor float yang bekerja menggunakan sistem pelampung dan pemberat. Terakhir, sensor radar yang menggunakan prinsip penembakan gelombang mikro ke permukaan air laut.

Seluruh sensor pada tide gauge tersebut akan merekam data ketinggian muka air laut setiap satu menit. Kemudian, data yang telah direkam dikirimkan ke server di BIG setiap lima menit. Data ini secara real time juga dikirim ke BMKG.

Data yang masuk ke BMKG kemudian diproses dan diolah di sistem peringatan dini tsunami. Sistem tersebut akan memberikan konfirmasi apakah gelombang tsunami benar-benar terbentuk atau tidak.

Sebagai informasi, pelepasan KR Baruna Jaya IV ini juga dihadiri Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Zainal Abidin, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, Direktur Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bernardus Wisnu Widjaja, serta Staf Ahli Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Bidang Infrastruktur Hari Purwanto. (NIN)