Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Kepala BIG Memberi Kuliah Umum di Universitas Ibnu Khaldun

 photo WhatsApp Image 2018-05-03 at 13.46.51_zps9stceuqr.jpeg

(Bogor, Berita Geospasial) - Dunia pendidikan haruslah sinergi dengan dunia kerja serta mengikuti perkembangan teknologi. Inilah diantaranya yang mengilhami Mahasiswa Universitas Ibnu Kholdun sebagai salah satu perguruan tinggi yang ada di Kota Bogor untuk mengadakan seminar bertema “Teknologi Informasi dan Geospasial di Era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Di forum bertemunya para akademisi ini, Kepala Badan Informasi Geosasial (BIG), Prof. Hasanudin Z Abidin hadir sebagai pembicara di Aula Gedung Abdullah Sidik UIKA Bogor pada kamis, 3 Mei 2018.

Dalam presentasinya yang berjudul “Peran IG untuk Pembangunan” di hadapan sekitar 200 orang peserta seminar, Prof hasanuddin menjelaskan bahwa sekarang ini BIG beralih koordinasi ke Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas karena dalam praktiknya informasi geospasial (IG) ini banyak digunakan uuntuk mendukung perencanaan pembangunan. BIG sekarang ini belum banyak difahami, makanya dirinya semangat untuk menjelaskan di banyak tempat tentang apa itu IG.

“IG untuk mudahnya adalah peta, yang dewasa ini berupa digital, geodatase dengan tampilan 3 dimensi. IG digabungkan dengan data statistik, intelejen dan lain sebagainya, yang ujungnya untuk kesejahteraan masyarakat dan pembangunan”, ungkapnya.

Prof. Hasanudin memprovokasi di UIKA untuk membuka jurusan ilmu kebumian baik itu geografi, geodesi. Ini karena kita masih kekurangan SDM di bidang IG. Yang paling susah dalam dunia IG adalah menyediakan data dasarnya, baik itu titik ikat berupa jaring kontrol vertikal dan horizontal, peta rupabumi, peta LPI dan peta LLN.

“Indonesia yang terbentang dari sabang ke Merauke serta dari Miangas ke Pulau Rote itu jika diletakkan di Eropa seperti dari London ke Baghdad serta dari Polandia ke benua Afrika. Wilayah luas apalagi dengan potensi laut itu, maka harus dipetakan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat”, imbuhnya.

Sekarang ini, barangsiapa yang menguasai IG, maka dia akan menguasai dunia. Google menggarap bisnis IG yang dimanfaatkan oleh banyak orang termasuk kita. Makanya kita jangan hanya menjadi pengguna, tapi generasi milenial harus cerdas. Sekarang ini, data geospasial besar sekali, kita butuh SDM yang faham Geospasial yang dikolaborasikan dengan informatika. Ini merupakan tantangan bagi kita bersama.

“Paradigna pemerintah untuk membangundewasana ini berlandaskan pada holistik, integratif, tematik dan spasial, (HITS). BIG sebagai pembina data geospasial mendukungnya dengan menyediakan peta yang berupa digital, seamless, 3 dimensi di 8 layernya”, tambahnya.

Google map sama seperti BIG yakni membeli citra satelit, cuma mereka pintar memasarkannya. Kita belajar yang baik-baik dari mereka. Sekarang ini perizinan sudah berbasis IG, contohnya adalah peta jalur angkot di Bogor dan lain sebagainya. BIG diminta untuk menyiapkan Big Data Geospasial yang cepat, karena kita punya atribut-atribut yang google tidak punya. Meskipun itu masih rahasia, hanya berupa rupabuminya yang dibuka.

“Pembangunan pada ujungnya untuk sustainable development goal. BIG ikut mendukung itu dengan menyedeiakan peta terkait itu. Semua bisnis IG di hilir dikuasai asing atau Penanaman Modal Asing (PMA).  Potensi bisnis industri geospasial global pasar bisnisnya terbesar di ASEAN, dengan jumlah trilyunan.

“BIG itu apa aja sih pekerjaannya? Untuk dasarnya, BIG membangun jaring kontrol geodesi dan geodinamika, peta rupabumi berbagai skala, peta lingkungan laut nasional dan peta  lingkungan pantai, serta peta batas wilayah. Untuk peta tematik, BIG mengintegrasikan peta tematik dalam peta dasar yang ada”, jelas prof. Hasanudin.

Terkait Kebijakan Satu Peta (KSP), selama ini, peta tematik dibuat oleh k/l. Sistemnya, referensi banyak yang sama, sehingga ketika dioverlaykan tidak sama. Itu menjadi masalah pembangunan. Inilah yang kemudian mendasari kebijakan ini yang didukung oleh presiden. Satu referensi, satu basisdata dan satu ina geoportal. Peta peta itu dibuat oleh 19 k/l, 34 provinsi dengan 85 peta tematik yang ada.

Ada laman untuk berbagai pakai IG yang bias diakses di www.tanahair.indonesia.go.id. Ini ada kategorisasi, ada yang bisa diunduh secara bebas serta dengan ada yang dikualikan jika merugikan negara. Di daerah, sekarang ini sudah ada Pusat pengembangan infrastruktur Data Spasial (PPIDS) yang menjadi kepanjangan tangan BIG di daerah yang berlokasi di Perguruan tinggi di daerah.

“Di bogor, ada komunitas sebaran tambal ban yang di tagged di petakita. Dinas Perhubungan kalo mau mentagging terminal dan lain sebagainya. Sekarang ini orang suka yang cepat. Peta pun harus cepat, pemerintah introspeksi. Makanya dengan petakita, kita mulai mengembangkan itu. Mahasiswa UIKA jika mau magang, berkunjung dana tau minta data silakan aja ke BIG”, pungkasnya.

Prof. Hasanudin kemudian menerima cindera mata dari dekan Fakultas Teknik UIKA, H. Yogi Sirodz dan berfoto bersama. (ATM)