Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Pemetaan Wilayah Terdampak Bencana Gempa Bumi NTB 2018

Rabu 1 Agustus 2018, Badan Informasi Geospasial mengirimkan 4 (empat) personil tim Satuan Reaksi Cepat (SRC) dalam rangka tanggap darurat bencana alam gempa bumi di Lombok NTB. Tim SRC BIG mengawali aksinya melalui koordinasi dengan BPBD Provinsi NTB untuk mengetahui gambaran umum jumlah korban dan kerusakan bangunan terkini yang dilaporkan masyarakat. Selanjutnya tim SRC BIG merapat ke posko utama di Desa Madayin Kec. Sambalia Kab. Lombok Timur. Di posko tersebut, tim bergabung dengan Tim Deputi 1 BNPB untuk berkoordinasi terkait perkembangan terkini pemetaan cepat yang sudah dilakukan oleh BNPB, BPPT dan PVMBG. Koordinasi ini dilakukan Tim SRC BIG dalam rangka mendukung pemetaan cepat dengan UAV/pesawat udara nirawak.

Usai berkoordinasi dengan instansi terkait, tim SRC melanjutkan aksinya dengan bergerak menuju lokasi yang akan dipetakan yakni Dusun Obel-Obel dan Dusun Mentareng di Desa Obel-Obel serta Dusun Pademakan di Desa Belantik Kecamatan Sambalia Kab. Lombok Timur. Karena lokasi-lokasi tersebut masih belum terpetakan oleh tim dari setiap instansi yang melakukan pemetaan cepat. Desa Obel-Obel merupakan wilayah terdampak dengan lokasi yang sangat dekat dari titik episentrum gempa bumi, yakni sekitar 1 kilometer jarak mendatar. Sementara Desa Belantik sendiri berjarak mendatar sekitar 4 kilometer dari titik episentrum gempa bumi.

Setibanya di lapangan, tim SRC BIG berkoorinasi dengan masyarakat atau tokoh masyarakat korban wilayah terdampak untuk menggali informasi terkait kondisi terkini di dusun yang akan dipetakan. Hal ini dilakukan untuk perencanaan akuisisi data foto udara di lapangan yang akan dilakukan menggunakan pesawat udara nirawak. Hasil akuisisi foto udara kemudian diolah lebih lanjut untuk menghasilkan citra foto udara yang dapat digunakan untuk keperluan pemetaan cepat. Kegiatan ini pun berlangsung paralel bersama anggota tim SRC BIG yang sudah dibagi sebelumnya untuk survey terestris menggunakan geotagging dokumentasi di lapangan. Survey terestris ini bertujuan untuk mengambil sampel bangunan rusak akibat gempabumi, dengan prioritas utama adalah bangunan yang memiliki tingkat kerusakan berat. Survey terestris ini pun bertujuan untuk melengkapi data hasil analisis citra visual dalam rangka identifikasi jumlah bangunan yang rusak akibat gempabumi.

Hasil akhir dari pemetaan cepat ini adalah sebaran jumlah kerusakan bangunan di wilayah terdampak bencana gempa bumi. Dari hasil pengolahan lebih lanjut, didapatkan jumlah kerusakan berat untuk setiap dusun yang sudah dipetakan oleh tim SRC BIG. Sedikitnya 18 rumah rusak berat dari total sekitar 116 bangunan di Dusun Obel-Obel, Desa Obel-Obel.  Sementara untuk Dusun Mentareng, Desa Obel-Obel, teridentifikasi 129 bangunan rusak berat dari total sekitar 287 bangunan. Kemudian di Dusun Pademakan, Desa Belantik setidaknya ada 34 bangunan rusak berat dari total 165 bangunan.

Pemetaan cepat yang telah dilakukan oleh tim SRC BIG ini nantinya akan dikompilasi dengan hasil pemetaan cepat dari kementrian/lembaga (l/l) lainnya seperti BNPB, BPPT, dan PVMBG. Selanjutnya digunakan oleh pihak-pihak berkepentingan yang terkait, sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan dalam hal pemberian bantuan maupun relokasi terhadap masyarakat yang menjadi korban bencana gempa bumi. (ATM)