Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Prof. Hasanuddin Memberikan Kuliah Umum di Kampus UNUD Bali

 photo DSC_6626_zpserbiatp0.jpg

(Bali, Berita Geospasial) - Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Prof. Hasanuddin Z. Abidin memberikan Kuliah Umum Pengantar dan Motivasi dalam Keilmuan Teknik Geodesi-Geomatika kepada para mahasiswa Universitas Udayana, Denpasar pada Rabu, 9 Mei 2018.

Bertempat di Ruang Nusantara Gedung Agrokompleks Kampus Universitas Udayana (UNUD) Denpasar, Hasanuddin membawakan materi terkait “Informasi Geospasial dan Peranannya dalam Percepatan Pembangunan Daerah” sesuai program HITS (Holistik Integratif Tematik Spasial). Sebanyak kurang lebih 100 mahasiswa hadir dalam kegiatan kuliah umum ini. Hasanuddin menjelaskan garis besar apa itu Informasi Geospasial (IG) dan bagaimana peranannya dalam pembangunan daerah di Indonesia.

Peserta yang hadir merupakan mahasiswa dari berbagari jurusan, dosen dan anggota PPIDS Universitas Udayana.. Kuliah umum ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari Rakor Bimtek JIGN Regional Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang bertujuan untuk memperkenalkan Informasi Geospasial (IG) sehingga dapat menambah wawasan kepada mahasiswa.

“Informasi Geospasial merupakan seluruh jenis informasi yang memiliki unsur lokasi di permukaan Bumi maupun di dalam, di atas, atau di bawah permukaan Bumi (georeference)”, ungkapnya kepada para peserta. Beberapa jenis teknologi geospasial, terkait : Geographic Information System (GIS)/Spatial Analytics, Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Positioning, Earth Observation, serta Scanning.

Indonesia sendiri adalah negara maritim dengan luas wilayah yang sangat luas. “Bila dibayangkan wilayah Indonesia dibentangkan di dataran Benua Eropa, apabila Sabang terletak di London, maka Merauke terletak di Bagdad. Untuk ujung utara Indonesia terletak di Jerman, sementara ujung selatan terletak di Aljazair”, jelas Prof. Hasanuddin

IG juga memegang peran penting dalam proses pembangunan Tujuh Pilar Kebijakan Kelautan Indonesia, terutama dalam menyediakan data terkait kegiatan dan program maritim di Indonesia, atau dikenal sebagai geomaritim. Ketersediaan IG yang akurat dan dapat dipercaya ini dapat membantu meningkatkan pengambilan keputusan agar lebih efisien, efektif, dan komunikatif. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia sendiri, sudah secara aktif melibatkan IG dan data statistik secara bersama-sama sebagai dasar perencanaan, sehingga bisa mengakomodir kebutuhan nasional dari segala aspek.

Untuk mendukung kebutuhkan nasional tersebut, BIG selalu berupaya untuk menyediakan data dan IG terbaik sebagaimana tertuang dalam UU No 4 Tahun 2011 tentang IG, baik data dan IG Dasar, IG Tematik, maupun Infrastruktur IG. Salah satu produk BIG yang memegang peranan mendasar dan penting dalam pembuatan peta adalah adanya Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) 2013 yang membantu dalam menentukan sistem referensi vertikal terkait geoid.

“Untuk jangkauan layanan stasiun CORS BIG tahun 2017 sebanyak 134 stasiun, dan stasiun CORS baru yang akan dibangun sebanyak 255 stasiun dengan distribusi tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan ketersedian referensi Geospasial di Bali terdapat 219 JKG (177 JKV dan 42 JKH), 3 statiun CORS, dan 4 stasiun pasang surut permanen.”, jelas Hasanuddin.

Terkait Kebijakan Satu Peta (KSP) yang sedang digalakkan pula oleh pemerintahan Jokowi saat ini sangat penting terutama untuk mengatasi permasalahan tumpang tindih perijinan antar sektor. Tanpa KSP, maka tidak akan data satu data yang nantinya menjadi rujukan utama dalam perencanaan pembangunan. Di dalam KSP terdapat 85 peta tematik, yang walidatanya tersebar diantara seluruh Kementerian/Lembaga di seluruh Indonesia. Di tahun 2017 sendiri KSP dilaksanakan untuk wilayah Sumatera, Sulawesi, dan Bali, Nusa Tenggara. Setelah tahun sebelumnya dituntaskan untuk wilayah Kalimantan, sedangkan untuk tahun 2018 akan merambah wilayah Jawa, Maluku dan Papua.

Sementara tentang SDM bidang IG, Hasanuddin mengatakan bahwa kebutuhan 20.000 SDM bidang IG di Indonesia, tentu itu menjadi potensi lowongan pekerjaan yang besar dan harus dimanfaatkan harapannya dengan dibentuknya diploma prodi Geomatika dan Kebencanaan di Universirtas Udayana dapat menambah jumlah SDM di bidang IG. Terakhir, Hasanuddin juga memberikan bekal kepada para mahasiwa untuk bekerja secara 5As : kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja mawas dan kerja ikhlas untuk apapun yang dikerjakan agar berhasil. (EN/ATM)