Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

BIG Terima Kunjungan Belajar dari Mahasiswa Vokasi Program Studi Pertanahan Universitas Diponegoro

Cibinong, Berita Geospasial – Sebanyak 68 mahasiswa-mahasiswi beserta dosen pembimbing dari Sekolah Vokasi Program Studi Pertanahan Universitas Diponegoro melakukan kunjungan belajar ke Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Senin, 6 Agustus 2018. Bertempat di Ruang C1-C2 Gedung C BIG, rombongan disambut oleh staf Bidang Promosi dan Kerja Sama BIG, Adhy Rahadhyan. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka untuk belajar, sekaligus menambah wawasan mahasiswa terkait informasi geospasial.

Pada sambutannya, Wahid, Dosen Program Studi Pertanahan UNDIP, mengatakan bahwa tujuan kunjungan belajar adalah untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai BIG dan unit kerja yang ada di dalamnya. Menanggapi hal tersebut, Sri Lestari Munajati, Kepala Bidang Promosi dan Kerja Sama BIG menyampaikan, “Terima kasih atas kunjungannya, semoga materi yang didapatkan nanti bisa bermanfaat. Ke depannya jika ingin bekerja sama bisa menghubungi kami kembali, dan jika ingin memperoleh data dan informasi geospasial bisa dilakukan dengan cara mengirimkan surat sudah ditanda-tangani Rektor atau minimal Dekan atas nama Rektor, surat ditujukan kepada Kepala BIG.  Untuk peta rupabumi sudah menjadi public domain, namun untuk data yang masih punya tarif PNBP, maka dapat diperoleh dengan mengajukan surat permintaan tadi ”.

Sebagai awalan, peserta mendapatkan penjelasan tentang Profil BIG dari Adhy Rahadhyan. Penjelasannya diawali dengan games interaktif tentang peta, lalu dilanjutkan paparan tentang  apa itu BIG, serta tugas pokok dan fungsinya. “BIG adalah Lembaga Pemerintah Nonkementrian (LPNK) yang berdiri sejak 17 Oktober 1969, dimana sebelumnya bernama Bakosurtanal, dan sudah hampir 50 tahun berdiri”, tutur Adhy. Sejak tahun 2011, Bakosurtanal yang telah berubah nama menjadi BIG, memiliki 3 tugas utama, yaitu menyelenggarakan Informasi Geospasial (IG) Dasar, membina dan mengintegrasikan IG Tematik, serta memfasilitasi Insfrastruktur penyelenggaraan IG.

Berikutnya adalah paparan dari Pusat Pengelolaan dan Penyebarluasan Informasi Geospasial (PPPIG) BIG yang dibawakan oleh Indah Khurotul Aini. Indah menjelaskan bahwa Data dan IG yang telah dijelaskan itu diberikan secara terbuka dan gratis kepada stakeholder BIG, terutama untuk IGD-nya. Data dasar berupa Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) ini bisa diunduh secara gratis melalui portal berbagi-pakai data, yaitu Ina-Geoportal, yang bisa diakses melalui alamat : tanahair.indonesia.go.id. Indah menjelaskan kepada peserta apa manfaatnya dan bagaimana cara mengakses laman tersebut.

Setelah itu penjelasan dari Kepala Bidang Penelitian BIG, Nursugi, yang memberikan paparan terkait analisis bencana pada perkembangan penataan kota dan desa. Nursugi menerangkan bahwa penelitian di BIG memang terkait berbagai unit-unit teknis yang ada BIG. Riset yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung kegiatan pemetaan yang dilakukan BIG. “Bidang Penelitian ini sangat penting untuk bekerja sama dengan universitas-universitas di Indonesia yang berkaitan dengan bidang geospasial. Sebagai contoh penelitian terkait penataan ruang, perubahan iklim dan kebencanaan”, tuturnya. Mengingat SDM di BIG sendiri juga terbatas, maka kerja sama dengan universitas di daerah memang sangat dibutuhkan.

Paparan terakhir, adalah dari Pusat Standardisasi dan Kelembagaan Informasi Geospasial (PSKIG) BIG, oleh Sri Tampomas Tobing. Paparannya mengambil judul ‘Review Kurikulum Teknik Geodesi-Geomatika dalam Rangka Sertifikasi Tenaga Profesional Bidang Informasi Geospasial’. Dijelaskan bahwa jumlah perguruan tinggi yang memiliki cabang ilmu geodesi/geomatika di Indonesia ada 18 universitas. Sementara Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) hanya 4 LSP yang terakreditasi KAN/BIG dan 2 LSP sedang proses akreditasi. “Saat ini kita dihadapkan dengan tantangan liberalisasi ASEAN (Global)”, tutur Omas. Maka dari itu akreditasi dan sertifikasi sangat penting terutama untuk menghasilkan SDM yang berkualitas dan mempunyai daya saing. “Sertifikasi yang credible dengan SKKNI/KKNI yang qualified akan mengantarkan kualitas SDM dan industri geospasial yang accountable”, ungkap Omas menutup paparan pada hari itu.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi tanya jawab. Peserta bertanya kepada narasumber terkait materi yang kurang dipahami, dan sebagai gantinya mendapatkan souvenir BIG yang menarik. Diharapkan ke depannya kunjungan belajar dari Universitas Diponegoro dapat dilakukan secara rutin tiap tahunnya, sehingga semakin banyak generasi penerus bangsa yang melek geospasial. [AJ/LR/TR]