Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

e-Book Geospasial

  

InaCORS

naCORS adalah Continuously Operating Reference Station (CORS) yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial sebagai stasiun pengamatan geodetic tetap/kontinu. Berkembangnya CORS di Indonesia tidak lepas dari usaha Badan Informasi Geospasial (dahulu bernama Badan Koordinasi Survei danPemetaan Nasional atau BAKOSURTANAL) untuk mendefinisikandan memelihara referensi geospasial yang menjadi acuan dalam kegiatan survei, pemetaan, serta penyelenggaraan IG lainnya. Penentuan datum geodetik tau referensi geospasial pertama kali dilakukan dengan metode jaring utama triangulasi menggunakan alat optik pada tahun1862 yang menghasilkan beberapa sistem datum yang tidak dapat disatukan dan memiliki ketelitian yang berbeda-beda. Pada tahun 1970-an, pendefinisian datum geodetik berkembang dengan memanfaatkan teknologi TRANSIT Navy Navigation Satellite System atau lebih dikenal dengan satelit Doppler untuk mengukur sejumlah jaring kontrol geodesi (JKG).

  

 Kumpulan Atlas Badan Informasi Geospasial

 Kumpulan Ebook produk atlas Badan Informasi Geospasial untuk lebih lengkapnya  bisa kunjungi atlas.big.go.id

 

 

 

  

 Geotangkas Geospasial

 Buletin Informasi Geospasial Tata Ruang, Dinamika Sumberdaya, dan Atlas

 

 

 

 

  

47 Tahun Peran Informasi Geospasial dalam Pembangunan Indonesia

47 Tahun Peran Informasi Geospasial dalam Pembangunan Indonesia

 

 

  

NKRI dari Masa Ke Masa

Wilayah NKRI yang sangat luas menjadi peluang dan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa maritim yang besar dan sejahtera diantara bangsa-bangsa di muka bumi ini. Wilayah perbatasan sebagai beranda depan perlu didukung informasi geospasial yang mudah diakses dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjaga keutuhan NKRI, perencanaan dan strategi pertahanan-keamanan negara, Pengembangan ekonomi wilayah, peningkatan kesejahteraan rakyat dan ketahanan pangan nasional, serta sekaligus tentunya dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan pemantauan implementasi/pelaksanaan kebijakan publik.

 

 



Kebijakan Satu Peta Edisi Ke-2

Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) mengarahkan bahwa dalam penyusunan peta tematik harus berlandaskan pada 4 hal yakni: satu referensi, satu standar, satu database, dan satu geoportal. UU No. 4 Tahun 2011 mendorong agar peta dasar yang dibangun oleh BIG harus menjadi harus menjadi rujukan tunggal sebagai satu-satunya peta dasar dalam penyusunan peta tematik oleh seluruh pemangku kepentingan. Buku ini menyajikan lima isu utama. Pertama, dasar hukum yang melandasi lahirnya kebijakan satu peta. Kedua, contoh kasus tentang pentingnya kebijakan satu peta untuk menghindari konflik dalam penggunaan lahan. Ketiga, menyinergikan pembangunan informasi geospasial nasional melalui simpul jaringan geospasial nasional dengan kebijakan satu peta. Keempat, UU No. 4 Tahun 2011 yang jatuh tempo per April 2014. Kelima, membumikan informasi geospasial.

 

 

Mengakselerasi Pembangunan Nasional Melalui Informasi Geospasial

Badan Informasi Geospasial (BIG) melakukan pemetaan skala desa untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam upaya mempercepat pembangunan nasional. Hal ini terkait dengan kebijakan sembilan agenda pokok pembangunan (Nawacita) khususnya agenda III yaitu “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”. BIG akan siapkan peta citra resolusi tinggi desa seluruh Indonesia. Melalui peta citra resolusi tinggi yang sudah dikoreksi maka kita bisa menggunakan untuk Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) melalui pemetaan desa. Dari RDTR inilah pengelolaan sumber daya alam dapat dilakukan secara lebih terarah, optimal dan berkelanjutan. Dengan terpetakannya wilayah desan dengan baik dan benar melalui program Pemetaan Desa ini, maka secara otomatis wilayah kecamatan, kabupaten/kota hingga provinsi akan dapat terpetakan dengan mudah. Penetapan dan penegasan batas pada level di atasnya, juga merupakan sebagai awal pebangunan Indonesia.

 

 

Skala Peta Operasional : Mempercepat Pengukuhan Kawasan Hutan

Salah satu bentuk komitmen Badan Informasi Geospasial (BIG) terhadap implementasi Nota Kesepahaman Rencana Aksi Versama (NKB) adalah menyusun kajian skala peta operasional untuk berbagai alokasi ruang. Kajian ini diperlukan dalam kaitannya dengan percepatan pengukuhan kawasan hutan di Indonesia. Mendesaknya keperluan terhadap pengukuhan kawasan hutan saat ini dikarenakan banyaknya konflik spasial penguasaan lahan. Di antaranya penguasaan lahan yang tidak sesuai dengan status fungsi kawasan dan tumoang tindih antar penguasaan lahan karena belum adanya penetapan status kawasan. Dengan adanya usaha percepatan pengukuhan kawasan hutan ini, diharapkan dapat segera menyelesaikan konflik yang terjadi.

Sejarah Survei dan Pemetaan Nusantara - 40 Tahun BAKOSURTANAL

Selama empat dasawarsa, sudah banyak prestasi yang dicapai BAKOSURTANAL antaral lain dalam bidang informasi geospasial untuk penataan ruang, pemetaan perbatasan, kehutanan, dan pertambangan. BAKOSURTANAL berperan dalam menyediakan informasi geospasial untuk pengelolaan bencana alam dan penegasan batas wilayah antar mereka. Semua itu terangkum dalam bentuk buku yang berjudul Survei dan Pemetaan Nusantara.

 

         

   

Peta Mangroves Indonesia

Penelitian tentang geomorfologi pesisir, ekologi hutan mangrove, flora mangrove, kondisi sosial-ekonomi wilayah mangroves di setiap tempat yang berbeda di Indonesia menunjukkan bahwa ekosistem mangrove tergolong rentan (fragile ecosystems) dan krusial eksistensinya. Jadi jelaslah bahwa sekarang mangroves merupakan ekosistem penting secara biologi, ekologi, sosial dan ekonomi.

 

         

    

Ekosistem Mangrove Kepulauan Togean

Neraca ekosistem mangrove merupakan suatu informasi yang dapat menggambarkan sebaran cadangan ekosistem mangrove, pengurangan dan penggunaan ekosistem mangrove, sehingga pada waktu tertentu dapat diketahui kecenderungannya, apakah surplus atau defisit. Hal ini berguna sebagai alat monitoring sehingga dalam upaya memanfaatkannya dapat diimbangi dengan perlindungan dan konservasi.

 

 

         

  

Penilaian Kekayaan Sumberdaya Ikan Perairan Togean Kabupaten Tojo Una-Una

Terletak di perairan Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una memiliki sumber data kelautan yang sangat potensial dan penting artinya bagi wilayah Indonesia Bagian tengah.

 

 

            

Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Teluk Saleh

Menarik, keangkuhan Gunung Tambora yang menjulang seakan mengawasi perairan Teluk Saleh dengan segala dinamika masyarakat pesisirnya. Perjalanan Tim PSSDAL, BAKOSURTANAL ke pesisir Teluk Saleh di Pulau Sumbawa akan membawa kita memahami beragam potensi dan pesona menawan sebuah teluk di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Beragam kekayaaan alam dan dinamika masyarakat berikut potensinya terekam dalam buku ini.

 

        

   

Pulau Makalehi - Mutiara dalam Untaian Nusantara

Pulau-pulau kecil di Nusantara yang sangat indah dilihat dari udara itu merupakan perpaduan yang harmonis antara hijau, biru, dengan dasar pasir pantai, bertemu birunya laut yang bergradasi dari muda ke tua, laksana untaian mutiara dalam dasar biru tua maha luas.

 

 

        

  

Krakatau : Laboratorium Alam di Selat Sunda

Ledakan mahadahsyat Krakatau Agustus 1883 telah mensterilkan gunung ini. Namun, selang beberapa waktu, di Krakatau muncul tumbuhan yang masih halus serta binatang-binatang kecil. Lalu timbul hipotesis mengenai asal-usul tumbuhan dan hewan tersebut.

Bagaimana keadaan tumbuhan dan binatang di Krakatau saat ini?