Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Peran Informasi Geospasial dalam Pembangunan Daerah

Lampung Selatan, Berita Geospasial – Meski sudah mendekati akhir tahun, nyatanya tidak menyurutkan niat Badan Informasi Geospasial untuk menyebarluaskan Informasi Geospasial kepada seluruh pelosok negeri. Hal ini dibuktikan dengan dilaksanakannya kuliah umum di Institut Teknologi Sumatera yang terletak di Provinsi Lampung pada 13 Desember 2017. Kuliah umum ini diberikan oleh Kepala BIG, Prof. Hasanuddin Z. Abidin kepada seluruh Mahasiswa Jurusan Teknik Geomatika, Institut Teknologi Sumatera.

Mengawali acara kuliah umum ini, Rektor Universitas Teknologi Sumatera, Prof. Ofyar Z. Tamin, M.Sc.,Ph.D berkesempatan memberikan sambutan. “Tabik Puuuun!, sapa Prof. Ofyar yang secara spontan langsung dijawab dengan “Iya Puuun!”, oleh seluruh peserta kuliah umum. “Suatu kehormatan bagi ITERA yang bisa mendapatkan kuliah umum langsung dari Doktor Pertama di Indonesia yang mendalami tentang GPS, dan sekaligus merupakan Orang Nomor Satu di Badan Informasi Geospasial” jelas Prof. Ofyar. Melanjutkan sambutanya, Prof. Ofyar menjelaskan bahwa informasi geospasial penting untuk mengatasi permasalahan berkaitan dengan pertanahan. Prof. Ofyar kemudian menjelaskan bahwa secara resmi ITERA lahir pada tahun 2014. “Pada tahun 2012, mahasiswa kami hanya berjumlah 47 orang. Pada tahun 2017 ini jumlah mahasiswa kami sudah mencapai 3700 orang dan tahun 2018 direncanakan akan menerima 2700 orang mahasiwa”, jelas Rektor ITERA.  

“Saya kagum, sebagai perguruan tinggi baru, perkembangan ITERA begitu cepat dan mudah-mudahan semakin bagus apalagi jika dibantu oleh Pemerintah Daerah” jelas Prof Hasan yang pada acara ini juga memberikan sambutan. Prof. Hasan memberikan informasi bahwa pada tahun 2017 ini Indonesia kekurangan sekitar 20.000 tenaga kerja di Bidang Informasi Geospasial. Pada tahun 2017 ini di Indonesia banyak kegiatan yang membutuhkan tenaga dan informasi geospasial, seperti kegiatan pemetaan desa, reforma agraria dan sebagainya. “Dalam kegiatan pemetaan desa saja, dari 83.000 desa di Indonesia, bari sekitar 17.000 desa yang terpetakan batasnya” jelas Prof. Hasan. 

Kuliah umum ini dilaksanakan dengan mengambil tema “Peran Informasi Geospasial dalam Pembangunan Daerah”.  Mengawali materinya, Prof. Hasan menjelaskan bahwa informasi geospasial adalah seluruh informasi yang mengandung unsur posisi/koordinat/lokasi di atas permukaan bumi. Salah satu bentuk informasi geospasial adalah peta. Banyak sekali bidang ilmu yang menjadi rumpun ilmu bidang informasi geospasial seperti Geodesi, Geografi, Geodinamika dan sebagainnya. “Lalu mengapa informasi geospasial itu penting? Karena Indonesia adalah negara yang besar sehingga memerlukan informasi geospasial untuk mengurusnya”, lanjut Prof. Hasan.

“Di Bappenas, paradigma pembangunan sudah ada temanya yaitu HIST (Holistik, Integratif, Spasial, Tematik)”, jelas Prof. Hasan melanjutkan materinya. Hal ini ditujukan agar pembangunan tepat sasaran dan tepat anggaran. Informasi geosapsial sendiri memegang peranan penting dalam pembangunan, khususnya pembangunan di Indonesia mulai dari perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur jalan, dan kegiatan pembangunan yang berbasis spasial lainnya.

Dalam materinya, Prof. Hasan juga membahas tentang Kebijakan Satu Peta atau One Map Policy. “Kebijakan satu peta merupakan kebijakan yang bertujuan agar semua peta yang ada di Indonesia mengacu pada satu referensi geospasial, satu standar, satu basis data dan satu geoportal”, jelas Prof. Hasan. Kebijakan satu peta muncul sebagai solusi dengan banyaknya permasalahan tumpang tindih dalam perpetaan di Indonesia. “Pada kegiatan KSP sendiri ada 3 kegiatan utama, yaitu Kompilasi, Integrasi dan Sinkronisasi”, jelas Hasan. Pada tahun 2016, BIG sudah melakukan integrasi peta untuk Pulau Kalimantan dan pada tahun 2017 ini dilaksanakan untuk Pulau Sumatera.

Kuliah umum ini berlangsung dengan hikmat dan diikuti dengan antusias oleh semua mahasiswa. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan dari para mahasiswa. Salah satu pertanyaan muncul dari Ridwan Drajat, salah satu mahasiswa Teknik Geomatika. Ridwan menanyakan “Pada tahun 2017, ada penambahan luas laut Indonesia, bagaimana cara menentukan luas laut?”. Menjawab pertanyaan Ridwan, Prof. Hasan menjelaskan bahwa dalam hukum laut internasional ada yang namanya “Zonasi Laut”. Dengan zonasi laut tersebut, akan diketahui batas-batas laut Indonesia yang dijabarkan dalam bentuk koordinat. Dengan adanya koordinat ini lah bisa dihitung luas laut dengan menghitung luasan permukaan elipsoid.

Pada kuliah umum ini Prof. Hasan memberikan informasi bahwa bagi mahasiswa yang membutuhkan peta rupabumi dan peta dasar lainnya bisa mengunduhnya secara langsung di Ina-Geoportal. Atau jika tidak bisa diddapatkan melalui Ina-Geoportal, bisa mengirimkan surat permohonan data ke BIG. “BIG juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswa ingin magang atau PKL di BIG” tandas Prof. Hasan. [ES/AD]