Kamis, 08 Oktober 2026   |   WIB
id | en
Kamis, 08 Oktober 2026   |   WIB
BIG Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Geospasial Asia-Pasifik

Sanya, Berita Geospasial – Tantangan perubahan iklim, bencana, dan pembangunan berkelanjutan mendorong negara-negara Asia-Pasifik memperkuat kolaborasi dalam pemanfaatan informasi geospasial. Indonesia mengambil bagian dalam upaya tersebut melalui The Fifteenth Plenary Meeting of the United Nations Global Geospatial Information Management for Asia and the Pacific (UN-GGIM-AP) dan International Symposium on Geospatial Knowledge and Innovation for Climate Resilience and Sustainable Development yang berlangsung di Sanya, Tiongkok, pada 21–24 September 2026.

“Tantangan geospasial saat ini semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi atau satu negara saja. Karena itu, kolaborasi antarnegara, antar-working group, serta antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat harus terus diperkuat. Indonesia ingin menjadi bagian aktif dalam membangun ekosistem geospasial Asia-Pasifik yang semakin terintegrasi dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan,” ujar Direktur Atlas dan Penggunaan Informasi Geospasial Badan Informasi Geospasial (BIG) Dheny Trie Wahyu Sampurno.

UN-GGIM-AP merupakan komite regional UN-GGIM yang mewadahi pemangku kepentingan informasi geospasial dari 56 negara di kawasan Asia-Pasifik. Forum ini menjadi ruang bagi negara anggota untuk membahas perkembangan dan tantangan geospasial sekaligus menyusun arah kerja bersama melalui sejumlah working group.

Dalam struktur tersebut, Indonesia melalui BIG menempati posisi strategis. Dheny menjabat sebagai anggota Executive Board sekaligus Vice Chair UN-GGIM-AP.

Indonesia juga menempatkan perwakilan sebagai Vice Chair pada lima working group (WG) untuk periode 2026–2028, yaitu WG1 Geodetic Reference Frame, WG2 Cadastre and Land Management, WG3 Integrating Geospatial Information and Statistics, WG4 Integrated Geospatial Information Framework (UN-IGIF), serta WG5 GeoAI for Sustainable Development.

Salah satu fokus kontribusi Indonesia dalam forum tersebut ialah penguatan implementasi UN-IGIF. Pada Workshop on UN-IGIF, Dheny memaparkan pengalaman Indonesia melalui presentasi bertajuk Strengthening Indonesia’s Climate Resilience through UN-IGIF Implementation. Paparan tersebut menunjukkan bagaimana penerapan UN-IGIF dapat mendukung ketahanan Indonesia menghadapi perubahan iklim melalui pengelolaan informasi geospasial yang terintegrasi.

Dukungan terhadap penguatan agenda UN-IGIF juga disampaikan Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik BIG Antonius Bambang Wijanarto yang menjabat sebagai Co-Chair High Level Group UN-IGIF. Menurutnya, implementasi UN-IGIF di kawasan Asia-Pasifik membutuhkan sinergi antara negara anggota, Global Working Group, dan lembaga pengetahuan geospasial di tingkat global.

“Penguatan implementasi UN-IGIF tidak dapat dilakukan secara parsial. Kita perlu membangun kolaborasi yang lebih kuat antara negara anggota, Global Working Group, dan UNGGKIC agar pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik yang berkembang di setiap negara dapat saling memperkuat,” ujar Antonius.

Implementasi kerangka tersebut juga membutuhkan penguatan aspek kelembagaan dan sumber daya manusia. Kepala Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama BIG Mone Iye Cornelia Marschiavelli turut menyampaikan praktik Indonesia dalam aspek partnerships, capacity and education, serta communication and engagement. Penguatan kemitraan, peningkatan kapasitas, dan komunikasi dinilai penting untuk memastikan pemanfaatan informasi geospasial berkembang secara berkelanjutan dan menjangkau masyarakat.

Selain memperkuat implementasi UN-IGIF, Indonesia mendorong kolaborasi lintas Working Group untuk menangani isu geospasial yang saling berkaitan. Delegasi Indonesia mengusulkan peningkatan koordinasi antar-WG serta publikasi hasil pembahasan dan praktik baik melalui kanal resmi UN-GGIM-AP agar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh negara anggota.

Pembahasan forum juga mencakup berbagai isu strategis lainnya, antara lain pemanfaatan GeoAI, Earth observation, integrasi informasi geospasial darat, pesisir, dan laut, serta penguatan kapasitas nasional. Pertukaran pengalaman tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan iklim, pengurangan risiko bencana, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.

Hasil pertemuan di Sanya akan ditindaklanjuti Indonesia melalui penguatan implementasi UN-IGIF dan kerja sama dengan UNGGKIC. Salah satu agenda yang disiapkan ialah penyusunan best practice Country Action Plan yang diselaraskan dengan Rencana Induk Penyelenggaraan Informasi Geospasial.

Keikutsertaan aktif BIG dalam UN-GGIM-AP memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari komunitas geospasial Asia-Pasifik sekaligus membuka ruang untuk berkontribusi dalam menentukan arah kerja sama kawasan. Melalui keterlibatan di tingkat Executive Board dan lima Working Group, Indonesia tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga ikut mendorong pengembangan ekosistem geospasial yang lebih terintegrasi, inovatif, dan berdampak bagi pembangunan.

Reporter: Mone Iye Cornelia Marschiavelli
Editor: Kesturi Haryunani