Kamis, 08 Oktober 2026   |   WIB
en | id
Kamis, 08 Oktober 2026   |   WIB
Uji Implementasi Penandaan Geografis untuk Dukung ISPO

Siak, Berita Geospasial – Tuntutan terhadap praktik perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan semakin meningkat seiring dengan kebutuhan pasar global akan komoditas yang terlacak dan bebas dari deforestasi. Salah satu instrumen penting untuk menjaga daya saing sawit Indonesia adalah sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang mendorong penerapan praktik perkebunan berkelanjutan, sekaligus memperkuat tata kelola industri sawit nasional.


Sekretaris Utama Badan Informasi Geospasial (BIG) Belinda Arunarwati Margono diskusi dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manunggal Sakti /Gin Gin

“Penguatan informasi geospasial menjadi bagian penting dalam memastikan pengelolaan sawit berjalan secara akurat, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Data spasial yang konsisten akan mendukung proses penandaan geografis sekaligus memberikan kepastian mengenai lokasi dan batas areal perkebunan,” ujar Sekretaris Utama Badan Informasi Geospasial (BIG) Belinda Arunarwati Margono.

Kebutuhan tersebut semakin mendesak dengan berlakunya European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mensyaratkan ketersediaan data spasial yang akurat, terverifikasi, dan transparan untuk membuktikan komoditas yang masuk ke pasar Uni Eropa tidak berasal dari lahan hasil deforestasi. Di sisi lain, implementasi tata kelola sawit di Indonesia masih menghadapi persoalan ketidakkonsistenan data spasial, mulai dari perbedaan format hingga keterbatasan pemetaan lahan pekebun. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko sengketa lahan dan menghambat kepastian hukum.


Pegawai BIG menjelaskan tentang metode penandaan geografis dengan menggunakan Drone di lapangan /Gin Gin

Untuk menjawab tantangan tersebut, BIG melakukan uji implementasi pedoman penandaan geografis melalui kegiatan lapangan dan audiensi bersama pemerintah daerah serta kelompok petani kelapa sawit di Kabupaten Siak, Riau, pada Jumat, 2 Oktober 2026. Uji implementasi berlangsung di lahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kelapa Sawit Manunggal Sakti, Desa Sialang Sakti, Kecamatan Dayun.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya BIG memastikan metode penandaan geografis dapat diterapkan secara efektif di lapangan dan memperoleh masukan dari pemangku kepentingan. Tim melakukan peninjauan terhadap proses pengambilan data geospasial, kondisi aktual objek yang diukur, serta penerapan sejumlah metode penandaan geografis sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan standar teknis.

Tim teknis dari Direktorat Atlas dan Penggunaan Informasi Geospasial BIG yang terdiri atas Anggriawan Dwi Sartono, Rakyan Paksi Nagara, dan Mufid Damar Pidekso mempraktikkan pengambilan data menggunakan drone pada area perkebunan seluas kurang lebih 120 hektare. Tim juga menjelaskan metode pengambilan data yang sesuai standar kepada perwakilan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), United Nations Development Programme (UNDP), serta petani sawit Gapoktan Manunggal Sakti.

Praktik tersebut memberikan gambaran mengenai tahapan pengumpulan data yang diperlukan untuk menentukan areal blok tanam kelapa sawit secara akurat dan terstandar. Dengan metode pengukuran yang tepat, data lapangan dapat menjadi dasar untuk menghasilkan informasi spasial yang lebih konsisten dan mendukung proses penandaan geografis.


Kunjungan untuk mengenal fungsi dan manfaat stasiun CORS BIG /Gin Gin

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Indonesia Continuously Operating Reference Station (InaCORS) BIG yang berada di Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Riau. Kunjungan ini memperkenalkan fungsi jaringan CORS sebagai referensi koordinat nasional dalam pengukuran Global Navigation Satellite System (GNSS) dan akuisisi data penginderaan jauh.

“CORS BIG memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan penandaan geografis maupun pemetaan karena dapat digunakan sebagai referensi posisi yang akurat dan konsisten untuk meningkatkan ketelitian data geospasial,” jelas Anggri.

CORS dapat dimanfaatkan melalui metode Real-Time Kinematic (RTK) untuk pengukuran GNSS di lapangan maupun pengambilan foto udara menggunakan drone RTK. Metode ini menggunakan layanan koreksi posisi secara real-time dari stasiun CORS.

Data observasi CORS juga dapat digunakan sebagai referensi untuk mengolah data GNSS ataupun Global Positioning System (GPS) setelah pengukuran (post-processing) serta mengoreksi foto udara menggunakan Ground Control Point (GCP) atau metode Post-Processing Kinematic (PPK).

“Pemanfaatan tersebut membuat data yang dihasilkan lebih akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tambah Anggri.

Melalui uji implementasi ini, BIG tidak hanya menguji metode teknis di lapangan, tetapi juga membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya standar dan kualitas data geospasial dalam tata Kelola Perkebunan sawit. Integrasi data geospasial yang akurat, konsisten, dan dapat ditelusuri diharapkan dapat mendukung penerapan ISPO, memenuhi kebutuhan ketertelusuran pasar global, serta memperkuat kepastian dalam pengelolaan lahan sawit di Indonesia.

Reporter: Gin Gin Gustiar
Editor: Kesturi Haryunani