Sabtu, 19 September 2026   |   WIB
id | en
Sabtu, 19 September 2026   |   WIB
Platform Piksel BIG Rekam Perubahan 260,01 Hektare di Jatigede

Cibinong, Berita Geospasial — Sebanyak 260,01 hektare area yang sebelumnya tertutup genangan di sisi selatan Waduk Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, terpantau berubah menjadi area terbuka pada September 2026. Perubahan tersebut terekam melalui citra satelit yang dianalisis Badan Informasi Geospasial (BIG) menggunakan platform Piksel selama periode Juni hingga September 2026.

“Citra satelit multitemporal memungkinkan kita melihat perubahan kondisi permukaan bumi secara bertahap. Pada pemantauan Waduk Jatigede, perubahan tutupan genangan dapat diamati sekaligus diukur luas areanya pada periode yang berbeda,” kata Direktur Pemetaan Tematik BIG Gatot Haryo Pramono pada Sabtu, 19 September 2026.

Perubahan tersebut berlangsung seiring periode musim kemarau yang pada 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Di Jawa Barat, sebagian besar wilayah mengalami puncak musim kemarau pada Agustus dan sebagian masih berlanjut hingga September.

Perubahan tutupan genangan diamati melalui empat citra satelit bertanggal 9 Juni, 4 Juli, 8 Agustus, dan 7 September 2026. Rangkaian citra itu memperlihatkan area terbuka yang semakin meluas di sejumlah bagian tepian sisi selatan waduk.

Pada 9 Juni 2026, tutupan air masih mendominasi area pengamatan. Memasuki Juli, area terbuka mulai terlihat dan luasnya mencapai 138,3 hektare dibandingkan kondisi pada Juni. Perubahan kemudian meningkat menjadi 252,3 hektare pada Agustus dan mencapai 260,01 hektare pada September.

“Perbandingan citra dari waktu ke waktu memberikan informasi yang lebih jelas mengenai lokasi dan pola perubahan. Data ini membantu kita mengidentifikasi bagian wilayah yang mengalami perubahan sekaligus mengukur luasnya,” ujar Gatot.

Meski menunjukkan perubahan yang cukup besar, angka 260,01 hektare tersebut bukan luas penyusutan seluruh Waduk Jatigede. Angka itu merupakan hasil pengukuran pada area pengamatan di sisi selatan waduk, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi keseluruhan waduk.

Melalui Piksel, BIG dapat membandingkan citra satelit dari waktu yang berbeda untuk melihat dinamika permukaan bumi. Teknologi tersebut memberikan gambaran visual sekaligus ukuran kuantitatif mengenai perubahan tutupan genangan pada lokasi yang diamati.

“Informasi geospasial seperti ini penting karena memberikan gambaran kondisi wilayah berdasarkan lokasi dan perubahan yang terjadi. BIG menyediakan informasi tersebut agar dapat menjadi salah satu dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam melakukan pemantauan, analisis, dan merumuskan kebijakan yang lebih tepat,” kata Gatot.

Untuk membaca kondisi waduk secara menyeluruh, hasil analisis citra satelit tetap perlu dipadukan dengan data lain, seperti tinggi muka air, volume tampungan, curah hujan, debit air masuk dan keluar, serta informasi operasional waduk.

Kondisi tersebut menjadi semakin relevan di tengah fenomena El Niño yang pada September 2026 berada pada intensitas sangat kuat. Pemantauan berbasis citra satelit dapat menjadi salah satu sumber informasi spasial untuk membantu melihat perubahan wilayah secara berkala dan mendukung analisis terhadap dinamika sumber daya air.

Direktorat Pemetaan Tematik
Editor: Kesturi Haryunani