Rabu, 09 September 2026   |   WIB
id | en
Rabu, 09 September 2026   |   WIB
Peta untuk Membaca Ancaman El Niño

Depok, Berita Geospasial – Fenomena El Niño dan perubahan iklim menghadirkan risiko yang semakin kompleks bagi pembangunan dan ketahanan masyarakat Indonesia. Ketersediaan data akurat dan informasi yang mampu menggambarkan risiko secara spasial menjadi semakin penting untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mendukung pengambilan keputusan.


Deputi Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial (IIG) BIG Ibnu Sofian
saat menjadi narasumber pada Philanthropy Thought Leaders (PTL) ke 33 /Bram

“Menghadapi kondisi tersebut, BIG menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi geospasial sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim. Penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk menyediakan citra satelit multitemporal guna memantau perubahan tutupan lahan, tingkat kebasahan vegetasi, dan fase pertumbuhan tanaman. Sedangkan, analisis spasial dan kecerdasan artifisial dapat digunakan untuk melakukan pemodelan prediktif dalam mengestimasi risiko kekeringan serta mendukung sistem peringatan dini,” terang Deputi Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial (IIG) BIG Ibnu Sofian saat menjadi narasumber pada Philanthropy Thought Leaders (PTL) ke 33 bertajuk `El Nino dan Tantangan Iklim: Memperkuat Kesiapsiagaan dan Respons Kolaboratif` pada Jumat, 4 September 2026.

Philanthropy Thought Leaders (PTL) ke-33 merupakan forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, organisasi filantropi, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, akademisi, hingga komunitas relawan. Pertemuan ini menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama mengenai perkembangan El Niño, potensi dampaknya, serta strategi kolaboratif dalam memperkuat kesiapsiagaan dan respon terhadap risiko iklim.

Dalam paparannya, Ibnu menjelaskan bahwa El Niño dapat meningkatkan berbagai risiko, mulai dari cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi, kekeringan, penurunan curah hujan, hingga potensi gagal panen. Fenomena tersebut juga dapat memengaruhi ekosistem dan ketersediaan air. Di wilayah gambut, penurunan muka air tanah dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Berbagai risiko tersebut membutuhkan informasi yang tidak hanya akurat, tetapi juga mampu menunjukkan lokasi, sebaran, dan tingkat kerentanan suatu wilayah. Menurut Ibnu, teknologi geospasial dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) memungkinkan berbagai lapisan data spasial diintegrasikan untuk mengidentifikasi dan melakukan zonasi wilayah yang berpotensi mengalami krisis air maupun pangan. Dengan pendekatan tersebut, berbagai pihak dapat menentukan prioritas intervensi berdasarkan karakteristik dan kondisi masing-masing wilayah.

“Data dan Informasi Geospasial menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami kondisi suatu wilayah. Dengan mengintegrasikan berbagai data spasial, kita dapat melihat lokasi, sebaran, dan tingkat risiko secara lebih jelas sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat,” ujar Ibnu.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, BIG juga terus melihat peluang pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan geospatial computing untuk memperkuat pemanfaatan informasi geospasial. AI dapat dikembangkan untuk membantu memahami kebutuhan pengguna, mengolah data, melakukan analisis spasial, hingga menghasilkan informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan.

Dari sisi infrastruktur, ketersediaan peta dasar yang akurat dan mutakhir menjadi fondasi penting. BIG terus mendorong percepatan penyediaan dan pemutakhiran Peta Dasar skala besar, termasuk skala 1:5.000, untuk mendukung berbagai kebutuhan pembangunan, analisis wilayah, dan kebencanaan. Percepatan cakupan Peta Dasar skala 1:5.000 di seluruh Indonesia masih menjadi bagian penting dalam penguatan infrastruktur informasi geospasial nasional.

Data dan Informasi Geospasial dapat dimanfaatkan pada berbagai tahapan penanggulangan bencana, mulai dari kesiapsiagaan, pemodelan dan penilaian risiko, respon, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemanfaatannya antara lain mencakup pemodelan banjir, penilaian banjir pesisir, pemetaan kebakaran hutan, mitigasi gempa bumi, serta pemodelan kekeringan yang berkaitan dengan fenomena El Niño dan La Niña.

Sedangkan, Director of Bakti Barito & Vice Chair of Executive Board of PFI Dian A. Purbasari menekankan pentingnya kolaborasi dalam mengantisipasi potensi dampak El Niño. Menurutnya, upaya tersebut perlu diarahkan tidak hanya pada kesiapsiagaan, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak.

“Forum ini juga diarahkan untuk mengidentifikasi strategi pemenuhan kebutuhan pangan dan air, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta menghasilkan rekomendasi dan peluang aksi bersama yang dapat ditindaklanjuti oleh sektor filantropi dan para pemangku kepentingan,” ujar Dian.

Kolaborasi tersebut telah mulai dijajaki sebelum pelaksanaan PTL ke-33 melalui diskusi awal antara BIG dan jajaran kepemimpinan PFI. Pertemuan tersebut mengeksplorasi potensi sinergi antara pemanfaatan data dan Informasi Geospasial BIG dengan sumber daya ekosistem filantropi. Sinergi ini diharapkan dapat mendorong aksi mitigasi yang lebih presisi dan berbasis data, terutama untuk menjangkau wilayah serta masyarakat yang paling rentan.

Sebagai informasi, Forum PTL ke-33 dihadiri antara lain oleh Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopheluwakan; President Human Initiative sekaligus Koordinator Klaster Filantropi Kemanusiaan dan Pembangunan, Tomy Hendrajati; Wakil Direktur Program Bidang Prioritas Pembangunan dan Komunikasi INOVASI, Feiny Sentosa; Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nunung Nuryartono; serta Direktur Program Qudwah Indonesia, Erwan Zaenal.

Kehadiran BIG dalam forum ini menegaskan bahwa penguatan ketahanan menghadapi risiko iklim membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang ditopang oleh data. Informasi mengenai kondisi dan risiko suatu wilayah akan semakin bernilai ketika dapat diterjemahkan menjadi dasar bagi tindakan yang tepat, terukur, dan menyasar kelompok yang paling membutuhkan.

Reporter: Bramanto Apriandi
Editor: Kesturi Haryunani