Cibinong, Berita Geospasial – Badan Informasi Geospasial (BIG) memanfaatkan Piksel untuk memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Ketapang, Kalimantan Barat. Platform ini mengintegrasikan berbagai informasi citra satelit untuk membantu BIG mengamati perubahan kawasan terdampak dan perkembangan kebakaran secara lebih cepat dan menyeluruh.

Analisis citra Sentinel-2 /dok.BIG
Melalui Piksel, BIG dapat membandingkan kondisi kawasan sebelum dan sesudah kebakaran sekaligus menelusuri kemunculan titik panas dari waktu ke waktu. Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai lokasi, perkembangan, hingga luasan kawasan yang mengalami perubahan akibat karhutla.
Analisis citra Sentinel-2 menunjukkan perubahan kondisi kawasan yang cukup jelas antara 15 Agustus dan 28 Agustus 2026. Pada 15 Agustus, tutupan vegetasi masih terlihat relatif utuh. Namun, kondisi berbeda tampak pada citra 28 Agustus. Sejumlah bagian kawasan memperlihatkan perubahan warna dan karakter spektral yang kuat, dengan kepulan asap yang juga teridentifikasi di beberapa lokasi.
Berdasarkan hasil delineasi citra, area yang teridentifikasi terdampak kebakaran mencapai sekitar 1.051 hektare.
Direktur Pemetaan Tematik BIG Gatot Haryo Pramono menjelaskan, data penginderaan jauh memungkinkan BIG memantau perubahan kawasan secara lebih cepat. Data tersebut juga membantu memahami dinamika karhutla berdasarkan lokasi dan perkembangannya dari waktu ke waktu.
“Dengan memadukan data Sentinel-2 dan VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) melalui Piksel, kita dapat melihat bukan hanya perubahan kawasan yang terdampak, tetapi juga perkembangan aktivitas kebakaran dari waktu ke waktu. Informasi ini penting untuk memberikan gambaran spasial yang dapat mendukung pemantauan dan penanganan karhutla,” ujar Gatot.

BIG menggunakan data VIIRS untuk menelusuri kemunculan titik panas (hotspot) /dok.BIG
Selain mengamati perubahan tutupan lahan, BIG menggunakan data VIIRS untuk menelusuri kemunculan titik panas (hotspot). Data tersebut membantu menunjukkan kapan dan di bagian mana aktivitas kebakaran terdeteksi oleh satelit.
Hasil visualisasi di Piksel memperlihatkan bahwa kemunculan titik panas berlangsung secara bertahap, bukan dalam satu waktu. Pada periode 20–23 Agustus 2026, konsentrasi hotspot mulai terlihat di bagian selatan area yang kemudian teridentifikasi terdampak.
Aktivitas tersebut berlanjut pada 24–27 Agustus 2026 dengan munculnya konsentrasi titik panas tambahan di sejumlah lokasi. Sedangkan, pada 28–30 Agustus 2026, hotspot kembali terdeteksi di beberapa bagian kawasan yang sama.
Pola tersebut menunjukkan dinamika kebakaran yang berkembang secara spasial dan temporal. Dengan mengikuti persebaran hotspot berdasarkan periode waktu, pemantauan dapat diarahkan pada lokasi yang menunjukkan aktivitas kebakaran secara berulang atau mengalami peningkatan.
Sentinel-2 dan VIIRS memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam analisis karhutla. Data VIIRS membantu mengidentifikasi indikasi aktivitas kebakaran dan menelusuri waktu kemunculan hotspot. Sedang Sentinel-2 menawarkan resolusi spasial yang lebih tinggi sehingga dapat digunakan untuk melihat perubahan permukaan dan memetakan jejak area yang terdampak.
Ketika kedua sumber data tersebut diintegrasikan melalui Piksel, analisis menjadi lebih komprehensif. Informasi yang dihasilkan tidak berhenti pada pertanyaan di mana kebakaran terjadi, tetapi juga membantu menjawab kapan aktivitas kebakaran berkembang dan seberapa luas kawasan yang mengalami perubahan.
Pemanfaatan data satelit ini menjadi salah satu bentuk dukungan teknologi geospasial dalam pemantauan karhutla. Informasi spasial dan multitemporal yang dihasilkan dapat membantu pemerintah serta pemangku kepentingan menentukan wilayah prioritas pemantauan, memperkuat kebutuhan verifikasi lapangan, dan menyediakan informasi pendukung dalam pengambilan keputusan.
Editor: Kesturi Haryunani