Rabu, 26 Agustus 2026   |   WIB
id | en
Rabu, 26 Agustus 2026   |   WIB
Menyusuri Penyusutan Sungai Barito dari Citra Satelit

Cibinong, Berita Geospasial – Perubahan kondisi Sungai Barito di sekitar Jembatan Kalahien, Barito Selatan, Kalimantan Tengah, terlihat semakin jelas dalam beberapa pekan terakhir. Memasuki musim kemarau, muka air sungai turun dan membuka bagian dasar sungai yang sebelumnya terendam. Hamparan pasir dan gosong sungai pun semakin luas di sepanjang alur.

Kondisi tersebut tidak menunjukkan Sungai Barito benar-benar mengering. Alur utama sungai masih mengalir, tetapi permukaan air dan lebar alur aktifnya menyusut secara nyata.



Perubahan itu terekam dalam citra satelit Sentinel-2 pada 4 Mei 2026, 8 Juli, 19 Juli, dan 17 Agustus 2026. Citra pada 4 Mei 2026 menunjukkan badan sungai masih relatif lebar dengan area pasir yang terbatas.

Memasuki 8 Juli 2026, area terbuka di tepian sungai mulai meluas. Perubahan semakin terlihat pada 19 Juli 2026, ketika hamparan pasir bertambah luas. Kondisi paling jelas tampak pada citra 17 Agustus 2026.

Rangkaian citra tersebut memperlihatkan bahwa penyusutan permukaan air berlangsung bertahap seiring memasuki periode kemarau.

Direktur Pemetaan Tematik Badan Informasi Geospasial (BIG) Gatot Haryo Pramono menjelaskan, citra satelit memberikan cara yang objektif untuk melihat perubahan badan air dari waktu ke waktu.

“Citra satelit membantu kita melihat perubahan Sungai Barito secara lebih objektif. Yang terlihat bukan sungainya mengering, melainkan terjadi penyusutan permukaan air sehingga bagian dasar sungai yang sebelumnya terendam mulai terekspos,” terangnya pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Secara hidrologis, penurunan muka air tersebut berkaitan dengan berkurangnya pasokan air ke sistem sungai selama musim kemarau. Rendahnya curah hujan dan periode tanpa hujan yang lebih panjang mengurangi limpasan dari daerah aliran sungai (DAS) yang memasok Sungai Barito. Debit sungai kemudian menurun dan muka air ikut mengalami penyusutan.

Kondisi dasar sungai turut menentukan seberapa besar perubahan yang terlihat. Pada bagian sungai yang relatif dangkal atau memiliki endapan pasir, penurunan muka air beberapa puluh sentimeter saja dapat membuat area dasar sungai yang cukup luas muncul ke permukaan. Morfologi sungai dan pola sedimentasi juga memengaruhi lokasi serta bentuk hamparan pasir yang tampak pada citra.

Menurut Gatot, pemanfaatan data penginderaan jauh memungkinkan perubahan tersebut tidak hanya diamati secara visual, tetapi juga diukur. “Dengan analisis citra dan indeks, seperti Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI), kita dapat memisahkan permukaan air dari daratan maupun dasar sungai yang terekspos. Dari sana, perubahan luas badan air dan lebar alur aktif dapat dihitung secara lebih terukur,” jelasnya.

Analisis terhadap citra pada empat waktu pengamatan dapat digunakan untuk menghitung luas permukaan air, luas dasar sungai yang terekspos, serta perubahan lebar alur aktif. Informasi tersebut dapat memberikan gambaran kuantitatif mengenai besarnya penyusutan badan air selama periode kemarau.

Pemantauan secara berkala juga dapat memperkaya pemahaman terhadap respon Sungai Barito terhadap perubahan kondisi hidrologis. Jika rangkaian pengamatan diteruskan hingga akhir musim kemarau dan dipadukan dengan data curah hujan, tinggi muka air, maupun debit sungai, perubahan yang terjadi dapat dianalisis secara lebih menyeluruh.

Fenomena di Kalahien menunjukkan peran penting pengamatan bumi berbasis satelit dalam memahami kondisi sungai. Data tidak sekadar menunjukkan bahwa permukaan air berkurang, tetapi juga merekam proses perubahan secara bertahap, mulai dari menyempitnya alur aktif hingga semakin luasnya dasar sungai yang terekspos.

Dengan pendekatan tersebut, istilah Sungai Barito ‘mengering’ dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih tepat. Data satelit menunjukkan bahwa yang terjadi adalah penyusutan permukaan air dan alur aktif akibat perubahan kondisi hidrologis, sementara alur utama sungai masih tetap mengalir.

Editor: Kesturi Haryunani