Kamis, 27 Agustus 2026   |   WIB
id | en
Kamis, 27 Agustus 2026   |   WIB
Membaca Jejak Kebakaran Bromo dengan Piksel

Cibinong, Berita Geospasial – Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, sejak 3 Agustus 2026. Api membakar sejumlah area di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), termasuk wilayah Watu Gede di Kabupaten Probolinggo dan Jantur di Kabupaten Malang.

Kebakaran tersebut tidak hanya meninggalkan perubahan yang dapat diamati dari permukaan. Jejaknya juga terekam dari angkasa melalui citra satelit. Data penginderaan jauh memungkinkan perubahan kawasan diamati dalam cakupan yang lebih luas, sekaligus membantu menelusuri perkembangan aktivitas panas dari waktu ke waktu.


Citra Sentinel-2 pada 2 Agustus 2026 dan citra 22 Agustus 2026 /dok. BIG

Badan Informasi Geospasial (BIG) memanfaatkan platform Piksel untuk menganalisis kejadian tersebut dengan mengombinasikan citra Sentinel-2 dan data active fire VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite). Kombinasi kedua sumber data ini memberikan gambaran spasial dan temporal mengenai perkembangan kebakaran di kawasan Bromo.

Citra Sentinel-2 pada 2 Agustus 2026 digunakan untuk melihat kondisi kawasan sebelum perubahan pascakebakaran. Sedangkan, citra 22 Agustus 2026 memperlihatkan kondisi setelah rangkaian aktivitas kebakaran terdeteksi.

Perbandingan kedua citra menunjukkan perubahan rona dan karakter spektral pada sejumlah bagian kawasan. Pada 2 Agustus 2026, tutupan vegetasi di sekitar Bromo masih tampak relatif seragam. Kondisi berbeda terlihat pada citra 22 Agustus 2026, ketika sejumlah area mengalami perubahan yang cukup mencolok. Perubahan tersebut dapat menjadi indikasi adanya vegetasi yang terbakar atau mengalami kerusakan.

Melalui analisis Sentinel-2, Piksel dapat membantu mendeteksi sekaligus mendelineasi area yang diduga terdampak kebakaran. Namun, citra tersebut belum cukup untuk menjelaskan bagaimana kejadian berkembang dari waktu ke waktu. Untuk melengkapinya, analisis menggunakan data active fire dari VIIRS.

Data VIIRS merekam lokasi active fire, yakni titik ketika satelit mendeteksi anomali termal yang memenuhi kriteria tertentu pada saat observasi. Ketika titik-titik tersebut disusun berdasarkan waktu, muncul pola perkembangan aktivitas panas di berbagai bagian kawasan.

Pada 2–4 Agustus 2026, titik awal aktivitas panas mulai terdeteksi. Selanjutnya, pada periode 5–8 Agustus 2026, 9–12 Agustus, hingga 13–18 Agustus 2026, distribusi titik hotspot memperlihatkan perkembangan lokasi dan konsentrasi aktivitas panas.


Titik hotspot memperlihatkan perkembangan lokasi dan konsentrasi aktivitas panas /dok. BIG

Direktur Pemetaan Tematik BIG Gatot Haryo Pramono mengatakan, data satelit memberikan cara pandang yang lebih menyeluruh dalam memahami kejadian kebakaran.

“Citra satelit tidak hanya membantu kita melihat di mana terjadi perubahan, tetapi juga memungkinkan kita menelusuri jejak aktivitas panas dari waktu ke waktu. Dengan menggabungkan Sentinel-2 dan VIIRS di dalam Piksel, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai lokasi, waktu, dan pola perkembangan kebakaran,” ujar Gatot.

Meski demikian, data active fire tidak menunjukkan batas maupun luas area kebakaran secara langsung. Data tersebut lebih tepat digunakan untuk menunjukkan jejak waktu dan lokasi aktivitas panas yang terdeteksi satelit. Informasi ini kemudian dapat dipadukan dengan perubahan permukaan yang terlihat melalui citra Sentinel-2.

Kedua sumber data tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi. Jika Sentinel-2 membantu menjawab pertanyaan ‘bagian mana yang mengalami perubahan?’, data active fire melalui FIRMS membantu menjawab ‘kapan dan di mana aktivitas panas terdeteksi?’.

Di dalam Piksel, titik-titik active fire dapat dianalisis berdasarkan kedekatan lokasi dan waktu untuk membentuk fire event. Hasil analisis tersebut kemudian dapat dikaitkan dengan perubahan spektral yang terlihat pada citra Sentinel-2. Dengan pendekatan ini, rangkaian citra dan titik panas tidak berhenti sebagai data terpisah, tetapi dapat diolah menjadi informasi yang menggambarkan suatu kejadian secara lebih menyeluruh.

“Yang penting dari pendekatan ini adalah kemampuan untuk menghubungkan dimensi ruang dan waktu. Kita tidak hanya melihat titik panas atau perubahan tutupan lahan secara terpisah, tetapi mencoba memahami hubungan keduanya sebagai bagian dari satu rangkaian kejadian,” kata Gatot.

Analisis tersebut menunjukkan bagaimana teknologi penginderaan jauh dapat mengubah data satelit menjadi informasi geospasial yang lebih mudah digunakan untuk memahami kebakaran. Piksel dapat membantu mengidentifikasi lokasi aktivitas panas, menelusuri kronologi dan pola perkembangannya, serta memperkirakan area yang mengalami perubahan pascakebakaran.

Informasi itu selanjutnya dapat menjadi masukan bagi pemantauan kawasan konservasi, evaluasi dampak kebakaran, pemetaan wilayah terdampak, hingga pengambilan keputusan berbasis data geospasial. Dengan demikian, pemanfaatan citra satelit tidak sekadar merekam kondisi kawasan, tetapi juga membantu menghadirkan gambaran yang lebih lengkap mengenai dinamika suatu kejadian dari waktu ke waktu.

Editor: Kesturi Haryunani