Rabu, 23 September 2026   |   WIB
en | id
Rabu, 23 September 2026   |   WIB
BIG Ajak Siswa SMAIT Rahmaniyah Coba Drone dan Belajar SIG

Cibinong, Berita Geospasial – Badan Informasi Geospasial (BIG) mengenalkan pemanfaatan teknologi geospasial kepada 105 siswa kelas X Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Rahmaniyah pada Selasa, 22 September 2026. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk melihat penerapan ilmu geospasial, sekaligus membantu mereka mengenali minat dan menentukan arah pilihan akademik antara bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

“Agar anak-anak bisa turun langsung ke lapangan, sehingga tahu ke depannya mau pilih bidang apa,” ujar Kepala Sekolah SMAIT Rahmaniyah Purwanita Jayanti.

Rangkaian kegiatan diawali dengan praktik lapangan di Pusat Pengembangan Kompetensi Informasi Geospasial (PPKIG). Para siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai teknologi survei, tetapi juga berkesempatan mencoba menerbangkan drone dan mengenal penggunaan alat Global Navigation Satellite System (GNSS).

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menarik bagi siswa. Asya, salah satu peserta, mengaku senang dapat mencoba teknologi yang sebelumnya hanya mereka kenal dari penjelasan atau media.

“Tadi kita langsung dikasih tahu cara menerbangkan drone, lalu diskusi bagaimana caranya mengukur tinggi tanpa harus bolak-balik menggunakan meteran,” ungkapnya.

Setelah praktik lapangan, para siswa diajak memahami bagaimana teknologi geospasial digunakan untuk memperoleh informasi mengenai permukaan bumi. Materi mengenai penginderaan jauh disampaikan Nerissa Mutiara Christy dari Direktorat Pemetaan Rupabumi Wilayah Darat BIG.

“Penginderaan jauh itu ilmu, seni, dan teknik untuk memperoleh informasi mengenai suatu objek, wilayah, atau fenomena di permukaan bumi tanpa melakukan kontak fisik langsung,” ujar Nerissa membuka paparannya.

Ia menjelaskan, proses tersebut melibatkan sejumlah komponen, mulai dari sumber energi, atmosfer, objek di permukaan bumi, wahana dan sensor, hingga pengguna data. Sensor yang digunakan dapat berada pada berbagai wahana, seperti satelit, pesawat, dan drone. Data yang direkam sensor selanjutnya dapat berupa citra visual maupun data digital untuk diolah menjadi informasi.

Satu hal penting yang perlu dipahami dalam penginderaan jauh, lanjut Nerissa, adalah perbedaan sensor pasif dan sensor aktif. “Sensor pasif mengandalkan cahaya alami, sedangkan sensor aktif memancarkan sinyal sendiri,” jelasnya.

Antusiasme siswa semakin terlihat saat mengikuti sesi Penerapan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang disampaikan Adrian Nata Kusuma dari Pusat Pengembangan Kompetensi Informasi Geospasial (PPKIG). Ia menggunakan contoh yang dekat dengan keseharian siswa, seperti Valorant, Mobile Legends, Free Fire, dan Minecraft, untuk menjelaskan konsep pemetaan modern.

“Kalau kita lihat dalam gim seperti Minecraft atau Mobile Legends, ada bangunan, jalan, dan berbagai objek yang ditempatkan pada lokasi tertentu. Konsepnya mirip dengan SIG, yaitu bagaimana kita mengelola informasi berdasarkan lokasi sehingga dapat memahami kondisi suatu wilayah,” ujar Adrian.

Pendekatan tersebut membuat materi SIG terasa lebih dekat dengan pengalaman siswa. Peta tidak lagi diperkenalkan sekadar sebagai gambar permukaan bumi, tetapi sebagai bagian dari teknologi yang digunakan untuk mengelola informasi berdasarkan lokasi.

Antusiasme siswa kemudian ditutup melalui kuis interaktif Kahoot Geospasial. Rangkaian kegiatan kunjungan yang memadukan praktik lapangan, pengenalan teknologi, dan pembelajaran interaktif diharapkan dapat membantu siswa memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai dunia geospasial.

Reporter : Nabila Yuniar Sarasdwiati
Editor: Kesturi Haryunani