Kamis, 29 Oktober 2026   |   WIB
en | id
Kamis, 29 Oktober 2026   |   WIB
NASA Bakal Petakan Hutan Indonesia dari Udara, BIG Bidik Akurasi Peta Nasional

Cibinong, Berita Geospasial – Badan Antariksa Amerika Serikat (National Aeronautics and Space Administration/NASA) menjajaki kerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk meningkatkan akurasi pemetaan hutan dan elevasi di Indonesia. Kolaborasi ini akan diwujudkan melalui Kampanye Udara Global Ecosystem Dynamics Investigation – Land, Vegetation and Ice Sensor (GEDI-LVIS) yang direncanakan berlangsung pada 2027.

“Tujuan utama kampanye ini adalah mengurangi ketidakpastian data GEDI melalui kalibrasi dan validasi menggunakan LVIS. Kami ingin berkolaborasi dengan BIG dan mengundang para ilmuwan Indonesia untuk terlibat, termasuk dalam riset dan publikasi,” ujar Deputy Associate Director for Research, Earth Science Division NASA Michelle Hawkins saat audiensi pada Senin, 27 Oktober 2026.

Hawkins memimpin delegasi Earth Science Division NASA yang diterima Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BIG Mohamad Arief Syafii beserta jajaran. Pertemuan tersebut membahas tujuan kampanye, rencana pengumpulan data, metode kalibrasi dan validasi, serta peluang pemanfaatan hasil pengukuran untuk mendukung kebutuhan informasi geospasial Indonesia.

Saat ini, NASA mengoperasikan instrumen Global Ecosystem Dynamics Investigation (GEDI) yang terpasang di International Space Station (ISS) sejak 2019. Instrumen berbasis teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR) full-waveform ini memetakan struktur hutan global dan membantu memperkirakan biomassa karbon hutan melalui model statistik.

Untuk meningkatkan keandalan estimasi tersebut, NASA merencanakan kampanye pengukuran udara menggunakan instrumen LVIS. Sensor ini mampu mengukur tinggi vegetasi dengan ketidakpastian kurang dari satu meter, sedangkan pengukuran GEDI dari ISS memiliki ketidakpastian sekitar tiga meter.

Perbedaan tingkat ketelitian itu menjadi alasan penting bagi NASA untuk menggabungkan pengukuran udara dengan data satelit. Melalui kalibrasi dan validasi, para peneliti dapat menguji model yang digunakan untuk memperkirakan struktur dan biomassa hutan, terutama di kawasan tropis yang memiliki karakteristik vegetasi kompleks.

Indonesia menjadi salah satu lokasi penting dalam rencana tersebut. Hingga kini, data LVIS belum tersedia di Asia. Sedangkan, model biomassa hutan tropis Indonesia belum pernah dikalibrasi menggunakan data instrumen tersebut. Kondisi ini membuka peluang bagi peneliti Indonesia untuk memperkuat basis data dan mengembangkan kajian ilmiah mengenai ekosistem hutan tropis.

Kampanye GEDI-LVIS juga berpeluang mendukung peningkatan kualitas informasi geospasial nasional. BIG melihat kegiatan ini sebagai kesempatan untuk menguji akurasi Peta Rupabumi Indonesia dan Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS), yang selama ini dikembangkan dengan memanfaatkan data IfSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar), TanDEM-X (TerraSAR-X add-on for Digital Elevation Measurement), dan ALOS PALSAR (Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar).

Plt. Kepala BIG Mohamad Arief Syafii menyambut rencana kolaborasi tersebut sebagai peluang untuk memperkuat kualitas data geospasial Indonesia melalui pemanfaatan teknologi pengukuran yang lebih presisi.

“Kolaborasi ini menjadi peluang bagi BIG untuk menguji dan meningkatkan akurasi informasi geospasial nasional melalui pemanfaatan teknologi LiDAR. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memperkuat kualitas data pemetaan Indonesia, tetapi juga mendorong pertukaran pengetahuan dan keterlibatan ilmuwan Indonesia dalam riset geospasial berskala internasional,” ujarnya.

Rencana pengukuran mencakup sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan, Jambi, serta kawasan pegunungan, termasuk Sulawesi. Selain memetakan karakteristik vegetasi, pengukuran di wilayah bergunung dapat mendukung validasi model elevasi dan membantu mengevaluasi ketelitian data ketinggian yang digunakan dalam pemetaan nasional.

Untuk menjalankan misi tersebut, NASA merencanakan penggunaan pesawat yang berbasis di Bali. Pesawat itu diproyeksikan mampu terbang hingga 13 jam tanpa mengisi bahan bakar dan membawa sistem LiDAR dengan dua sensor. Konfigurasi tersebut memungkinkan pengukuran dengan cakupan sapuan hingga 2,4 kilometer.

Pelaksanaan kampanye tetap mengikuti ketentuan Indonesia. NASA menyatakan akan mematuhi regulasi yang berlaku, sementara proses perizinan akan dikoordinasikan melalui institusi terkait, termasuk Kementerian Luar Negeri.

Pada tahap selanjutnya, BIG dan NASA akan menyelaraskan rencana teknis dengan mempertimbangkan ketentuan penerbangan nasional. NASA juga membuka ruang bagi otoritas Indonesia untuk memberikan masukan mengenai zona larangan terbang (no-fly zones), kawasan sensitif pemerintah, dan lokasi prioritas pengumpulan data (area of interest).

Reporter: Maya Scoryna
Editor: Kesturi Haryunani