Kamis, 24 September 2026   |   WIB
en | id
Kamis, 24 September 2026   |   WIB
Suneo, Teknologi GNSS untuk Membaca Dinamika Sesar Matano

Cibinong, Berita Geospasial — Badan Informasi Geospasial (BIG) meluncurkan Sulawesi GNSS Network Observation (Suneo), aplikasi yang mendukung pengamatan aktivitas dan deformasi Sesar Matano secara kontinu. Peluncuran ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur pengamatan geospasial di Sulawesi, sekaligus langkah strategis untuk memperluas pemanfaatan data Global Navigation Satellite System (GNSS) dalam kajian geodinamika dan mitigasi risiko bencana.


Direktur Sistem Referensi Geospasial BIG Fifik Syafiuddin saat membuka acara /Risa K

“Teknologi geospasial, seperti GNSS, remote sensing, InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar), dan tide gauge, memungkinkan kita memantau dinamika bumi dengan presisi yang belum pernah ada sebelumnya. Bagi BIG, jaringan CORS (Continuously Operating Reference Station) Indonesia telah menjadi infrastruktur landasan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BIG Mohamad Arief Syafii saat membuka lokakarya Earth Dynamics and Sea Level Change: Understanding Geohazard Risks through Geospatial Observation di Aula Bhumandala BIG pada Senin, 21 September 2026.

Suneo mengoperasikan 11 stasiun CORS baru di Sulawesi yang dikembangkan melalui kolaborasi BIG, Earth Observatory of Singapore–Nanyang Technological University (EOS-NTU), dan Universitas Hasanuddin (Unhas). Jaringan tersebut menyediakan pengamatan GNSS secara berkelanjutan untuk merekam perubahan posisi permukaan bumi dari waktu ke waktu.

Informasi yang dihasilkan menjadi bahan penting bagi peneliti untuk menganalisis karakteristik pergerakan kerak bumi, mengkaji dinamika tektonik, serta memperkuat pemahaman mengenai kondisi geologi di Sulawesi.


Salah satu pembicara, Emma Hill peniliti NTU /Risa K

Direktur Sistem Referensi Geospasial BIG Fifik Syafiuddin menjelaskan, pengembangan jaringan pengamatan seperti Suneo merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas teknologi dan pengetahuan dalam menghadapi berbagai risiko kebencanaan.

“Tantangan kebencanaan di Indonesia tidak hanya bersumber dari geologi, melainkan juga hidrometeorologi, sehingga kolaborasi dan pembelajaran lintas sektor harus terus diperkuat,” ujarnya.

Pengembangan Suneo sekaligus memperkuat kolaborasi antara lembaga pemerintah, institusi riset, dan perguruan tinggi. BIG, EOS-NTU, dan Unhas tidak hanya membangun infrastruktur pengamatan, tetapi juga mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pemanfaatan data geospasial.

Dengan tambahan 11 stasiun CORS, BIG bersama mitra juga memperkuat jaringan pengamatan geospasial di Sulawesi. Kehadiran Suneo diharapkan memperkaya ketersediaan data untuk penelitian geodinamika dan menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengamatan bumi yang berkelanjutan.

Sebagai informasi, peluncuran Suneo ini merupakan bagian dari rangkaian lokakarya yang menghadirkan peneliti NTU untuk membahas dinamika bumi serta perubahan muka laut. Salah satu pembicara, Emma Hill, memaparkan pengaruh proses tektonik di zona subduksi terhadap perubahan ketinggian daratan dan muka laut relatif.

Pembicara lainnya, Sang-Ho Yun, Lujia Feng, dan Benoit Taisne, memaparkan hasil riset mengenai pemanfaatan GNSS untuk mendukung pengamatan dinamika bumi dan mitigasi bencana di Indonesia.

Reporter: Luthfia Nuraini Rahman
Editor: Kesturi Haryunani