Cibinong, Berita Geospasial – Sebanyak 17 siswa Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Darul Quran mengunjungi Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kunjungan edukasi ini mengajak para siswa mengenal teknologi survei dan pemetaan, memahami pemanfaatan informasi geospasial dalam kehidupan sehari-hari, serta mempelajari peta sebagai sarana penyampaian informasi yang inklusif.

SIswa SMAIT Darul Quran kunjungan lapangan di Badan Informasi Geospasial (BIG) /Risa K
Tommy Nautico dari Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama (HHMK) BIG mengapresiasi antusiasme para siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut. Ia juga mendorong perempuan untuk berani mengenal dan menekuni bidang survei dan pemetaan yang selama ini turut didukung oleh tenaga profesional perempuan di BIG.
“Di BIG banyak surveyor wanita yang andal juga. Di sini adik-adik bisa belajar langsung pemetaan hingga atlas taktual. Kami juga sangat terbuka jika ada siswi yang ingin magang atau PKL,” ujar Tommy.
Saat sesi pemaparan materi, Fahrul Hidayat dari Direktorat Atlas dan Penggunaan Informasi Geospasial BIG menjelaskan peran informasi geospasial dalam membantu masyarakat memahami kondisi dan keterkaitan antarwilayah. Salah satu penerapannya ialah analisis aksesibilitas, misalnya untuk mengetahui jarak dan rute perjalanan dari permukiman menuju sekolah atau terminal melalui jaringan jalan.
“Informasi geospasial tidak hanya membantu kita mengetahui lokasi suatu tempat, tetapi juga memahami hubungan antarlokasi. Melalui peta, kita bisa menganalisis aksesibilitas dan memperoleh informasi yang mendukung pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Fahrul juga memperkenalkan atlas taktual, yaitu peta dengan simbol dan unsur timbul yang dirancang agar dapat dibaca melalui sentuhan. Media ini membantu penyandang tunanetra mengenali lingkungan dan memahami informasi keruangan secara lebih mandiri. Kehadiran peta taktual menjadi bagian penting dalam mendorong penyediaan informasi geospasial yang inklusif dan dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat.
“Peta taktual memungkinkan penyandang tunanetra mengenali informasi geografis melalui sentuhan. Dengan media ini, mereka dapat belajar memahami lingkungan dan memperoleh pengalaman dalam membaca peta. Ini merupakan salah satu upaya agar informasi geospasial dapat dimanfaatkan secara lebih inklusif,” tambahnya.
Selain pemaparan materi, para siswa juga diajak menyaksikan peragaan drone. Mereka pun berkesempatan melihat perangkat Global Navigation Satellite System (GNSS), mencoba range finder untuk mengukur tinggi, serta mempraktikkan penggunaan atlas taktual. Suasana interaktif mewarnai setiap sesi ketika para peserta mencoba perangkat dan mengeksplorasi informasi yang disajikan melalui peta.
Guru Geografi SMAIT Darul Quran Rahayu Effendi mengatakan, kunjungan tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat bagi para siswi. Menurutnya, kesempatan melihat langsung teknologi dan praktik pemetaan membantu peserta memperluas wawasan geografi di luar pembelajaran di kelas.
“Kegiatan ini sangat memberikan informasi yang bermanfaat untuk anak-anak ke depannya, dan tentunya pengetahuan tentang geografinya juga bertambah,” ungkap Rahayu.
Ia berharap, pengalaman tersebut dapat menumbuhkan minat siswi untuk mendalami geografi, khususnya bidang perpetaan, sekaligus meningkatkan kepedulian mereka terhadap wilayah Indonesia.
Reporter: Nabila Yuniar Sarasdwiati
Editor: Kesturi Haryunani