Senin, 07 September 2026   |   WIB
en | id
Senin, 07 September 2026   |   WIB
Indonesia–Malaysia Perkuat Fondasi Batas Negara melalui CBDRF

Jakarta, Berita Geospasial – Indonesia dan Malaysia mencapai sejumlah kesepakatan teknis dalam pengembangan Common Border Datum Reference Frame (CBDRF). Kesepakatan ini memperkuat upaya kedua negara membangun referensi bersama untuk menentukan posisi dan koordinat wilayah perbatasan secara konsisten.

Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam Scientific and Technical Discussion of the Common Border Datum Reference Frame (CBDRF) Project between Indonesia and Malaysia yang berlangsung di Jakarta pada 2–4 September 2026.

Selama pertemuan, delegasi kedua negara membahas pemrosesan dan analisis data observasi Global Navigation Satellite System (GNSS) untuk menentukan koordinat titik batas pilar A1 di Tanjung Datu, ujung paling barat Kalimantan. Kedua pihak juga membahas penggunaan Continuously Operating Reference Station (CORS) sebagai kerangka acuan utama dalam pengukuran koordinat pilar batas, serta kompilasi dan standardisasi data pengukuran sudut dan jarak atau traverse di wilayah perbatasan.

Ketua Tim Kerja Pilar Batas Negara Direktorat Pemetaan Batas Negara dan Nama Rupabumi Badan Informasi Geospasial (BIG), sekaligus Ketua Delegasi Indonesia, Eko Artanto mengatakan bahwa seluruh agenda pertemuan berjalan sesuai rencana dan menghasilkan sejumlah kesepakatan penting.

“Kita telah menyepakati dokumen beserta nilai koordinat untuk poin A1. Hasil ini kemudian akan diteruskan untuk digunakan dalam perundingan batas maritim antara Indonesia dengan Malaysia,” ujar Eko.

Kesepakatan mengenai titik batas A1 menjadi langkah penting, karena memberikan dasar teknis bagi pembahasan lanjutan mengenai posisi titik batas tersebut dalam sistem koordinat global.

Dalam pembahasan mengenai CORS, Indonesia dan Malaysia menyepakati penggunaan International Terrestrial Reference Frame 2020 (ITRF2020) sebagai kerangka referensi. Kedua negara selanjutnya akan melakukan pembahasan teknis mengenai jaringan dan pemilihan stasiun internasional yang akan digunakan sebagai titik ikat.

Pada agenda kompilasi dan standardisasi data survei traverse, kedua delegasi menyetujui format kompilasi yang akan digunakan sebagai standar resmi dalam pengumpulan data. Format bersama ini diharapkan dapat menciptakan pengelolaan dan pemanfaatan data perbatasan yang lebih seragam.

“Pada pertemuan ini kedua belah pihak telah mencapai hasil optimal, namun kedua belah pihak masih memiliki sejumlah tugas yang masih harus diselesaikan. Saya percaya bahwa dengan komitmen, semangat, dan pemahaman bersama yang baik antara kedua pihak akan menjadi dasar yang baik bagi kita untuk menyelesaikan tugas yang tersisa,” kata Eko.

Ketua Delegasi Malaysia Zulkafli bin Chihat mengapresiasi kerja sama yang terjalin selama pembahasan. Menurutnya, diskusi antara kedua negara telah berhasil menyelaraskan sejumlah aspek penting, mulai dari pemrosesan data GNSS dan penentuan koordinat titik batas internasional A1 di Tanjung Datu hingga pengembangan CBDRF secara lebih menyeluruh dan standardisasi data pengukuran.

“Saya percaya hasil perbincangan dan persetujuan yang telah dicapai akan menjadi asas yang kukuh kepada tindakan susulan serta kesinambungan kerjasama CBDRF di antara Malaysia dan Indonesia,” ujar Zulkafli.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada delegasi Indonesia dan BIG sebagai tuan rumah atas dukungan selama kegiatan berlangsung. Ke depan, Malaysia berharap kerja sama antara Jabatan Ukur dan Pemetaan Malaysia (JUPEM) dan BIG terus berkembang, khususnya dalam bidang geodesi, pengelolaan perbatasan, dan pemanfaatan data spasial.

“Sesungguhnya Sempadan memisahkan wilayah, tetapi tidak memisahkan hubungan dan persahabatan di antara kedua-dua buah negara serumpun ini,” kata Zulkafli.

Dengan berakhirnya pertemuan, kedua negara kini menyiapkan langkah lanjutan untuk menyelesaikan agenda teknis yang masih tersisa. Pembahasan mengenai jaringan CORS, pemilihan stasiun referensi, serta penyelesaian pekerjaan dalam pengembangan CBDRF akan menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama.

Reporter:Risa Krisadhi
Editor: Kesturi Haryunani