Rabu, 08 Juli 2026   |   WIB
id | en
Rabu, 08 Juli 2026   |   WIB
Kolaborasi BIG-BMKG Perkuat Peringatan Dini Berbasis Dampak

Jakarta, Berita Geospasial – Badan Informasi Geospasial (BIG) memperkuat perannya dalam mendukung sistem peringatan dini cuaca berbasis dampak atau Impact-Based Forecast (IBF) melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kerja sama pemanfaatan bersama data dan informasi geospasial tersebut ditandatangani di Auditorium BMKG, Jakarta, pada Senin, 6 Juli 2026, bertepatan dengan penyelenggaraan IBF Expose 2026 yang mengusung tema `Transformasi Peringatan Dini Cuaca Menuju Berbasis Dampak untuk Penguatan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi dan Mendukung Pembangunan Multi-Sektor`.

Penandatanganan PKS dilakukan oleh Deputi Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial BIG Ibnu Sofian, bersama Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani. Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mengintegrasikan informasi geospasial dengan data meteorologi, sehingga sistem peringatan dini tidak hanya mampu memprediksi potensi cuaca ekstrem, tetapi juga memberikan gambaran mengenai wilayah terdampak, tingkat risiko, serta tindakan mitigasi yang perlu dilakukan.


Penandatanganan PKS BKMG dengan BIG /Fauzi P

Pada kesempatan ini, Ibnu Sofian menjelaskan bahwa informasi geospasial merupakan fondasi penting dalam pengembangan layanan peringatan dini berbasis dampak. Kualitas analisis risiko sangat bergantung pada ketersediaan data geospasial yang akurat, mutakhir, dan beresolusi tinggi.

"Terdapat tiga aspek utama yang perlu kita perkuat dalam ekosistem geospasial nasional, yaitu ketersediaan data geospasial skala besar, penguatan Jaringan Informasi Geospasial Nasional, dan pengembangan industri geospasial,” terangnya.

Menurut Ibnu, ketiga aspek tersebut menjadi landasan agar informasi yang dihasilkan mampu mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan tepat saat menghadapi ancaman bencana. "Informasi Geospasial Dasar skala besar 1:5.000 hingga 1:1.000 di daerah pesisir menjadi kunci untuk hampir setiap kasus yang terjadi di permukaan bumi," ujarnya.


Deputi Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial BIG Ibnu Sofian memberikan penjelasan bahwa informasi geospasial
merupakan fondasi penting dalam pengembangan layanan peringatan dini berbasis dampak /Fauzi P

Kolaborasi antara BIG dan BMKG, lanjut Ibnu, menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem informasi geospasial nasional. BIG berperan menyediakan data geospasial dasar yang menjadi referensi berbagai analisis spasial, sedangkan BMKG melengkapinya dengan informasi meteorologi untuk menghasilkan layanan peringatan dini yang lebih komprehensif.

"Saya ingin ke depan penguatan BIG sebagai sektor geospasial dan berharap BMKG menjadi second layer, sehingga BIG dan BMKG dapat saling mendukung dalam pemanfaatan data geospasial untuk perlindungan masyarakat," tegasnya.Pada kesempatan yang sama, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Sistem peringatan dini harus terus bertransformasi agar tidak hanya menyampaikan potensi bahaya, tetapi juga mampu menjelaskan dampak yang mungkin terjadi, siapa yang berisiko, wilayah yang perlu bersiap, serta langkah antisipasi yang harus dilakukan.

“Perubahan iklim telah membawa tantangan yang semakin nyata sehingga peringatan dini tidak lagi cukup hanya menyampaikan informasi potensi bahaya. Informasi yang diberikan harus mampu menjawab apa dampaknya, siapa yang berisiko, wilayah mana yang perlu bersiap, serta langkah apa yang harus dilakukan,” tutur Faisal.

Senada, Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi membutuhkan sistem peringatan dini yang lebih antisipatif, terintegrasi, dan berorientasi pada aksi. Konsep impact-based forecast menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut, karena mampu menghubungkan informasi cuaca dengan potensi dampak yang akan dirasakan masyarakat.

Reporter: Fauzi Perdanaputra
Editor:Kesturi Haryunani