Kotawaringin Barat, Berita Geosapsial – Badan Informasi Geospasial (BIG) melaksanakan Uji Implementasi Pedoman Penandaan Geografis Blok Tanam dalam Mendukung Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kegiatan yang berlangsung pada 1–7 Juli 2026 ini dilaksanakan di perkebunan milik anggota Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM) Desa Kadipi Atas, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Uji implementasi ini bertujuan memperoleh bukti empiris untuk menyempurnakan pedoman penandaan geografis, sehingga menjadi acuan yang terukur, praktis, dan mudah diterapkan. Informasi geospasial yang akurat merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung proses verifikasi, audit, dan sertifikasi ISPO, sekaligus meningkatkan transparansi serta ketertelusuran ( traceability) rantai pasok komoditas kelapa sawit Indonesia.
Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik BIG Antonius Bambang Wijanarto berharap, hasil uji implementasi ini mampu menghasilkan pedoman yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh seluruh pemangku kepentingan.

Tim Lapangan BIG dengan Tim APKSM /(Dok:
APKSM)
<
"Hasil uji implementasi ini diharapkan menjadi masukan dalam penyempurnaan pedoman penandaan geografis sehingga dapat dimanfaatkan sebagai acuan oleh seluruh pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing," ujarnya.
Anton mengatakan, BIG juga telah menyiapkan infrastruktur geospasial nasional untuk mendukung pelaksanaan penandaan geografis yang lebih akurat dan seragam.
"BIG telah membangun dan mengelola 477 stasiun Ina-CORS ( Indonesia Continuously Operating Reference Station ) yang tersebar di seluruh Indonesia. Jaringan ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi koordinat dalam kegiatan penandaan geografis, baik melalui metode terestris maupun penginderaan jauh berbasis drone, sehingga menghasilkan data yang lebih akurat, konsisten, dan mengacu pada sistem referensi koordinat nasional," jelasnya.

Pelaksanaan Demonstrasi Kegiatan Penandaan
Geografis /
(Dok: Gin Gin)
Selama kegiatan lapangan, Tim BIG menguji berbagai metode penandaan geografis untuk objek berbentuk titik maupun poligon menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) geodetik, Global Positioning System (GPS) handheld, aplikasi GPS pada telepon pintar, serta teknologi penginderaan jauh berbasis drone melalui metode Ground Control Point (GCP), Real Time Kinematic (RTK), dan Post Processed Kinematic (PPK).
Setiap metode dievaluasi berdasarkan tingkat ketelitian posisi, efisiensi pelaksanaan, serta kemampuannya merepresentasikan batas blok tanam di lapangan. Pengujian juga dilakukan pada berbagai kondisi tutupan lahan untuk mengetahui pengaruh kanopi terhadap kualitas sinyal dan hasil pengukuran. Seluruh hasil kemudian dianalisis menggunakan parameter Root Mean Square Error (RMSE) dan Circular Error 90 persen (CE90) guna memperoleh gambaran objektif mengenai performa masing-masing metode.

Kunjungan ke Stasiun CORS CKWB di Pangkalan Bun (Dok. Gin Gin)
Selain pengujian di
lapangan, BIG memaparkan hasil sementara uji implementasi yang dilanjutkan
dengan audiensi bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri serta perwakilan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Badan
Standardisasi Nasional, Badan Pengelola Dana Perkebunan, Forum Petani Kelapa
Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), Dinas Pertanian Kabupaten
Kotawaringin Barat, UK-FCDO Jakarta, UNDP Indonesia, dan FAST Project.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor APKSM tersebut turut dihadiri Kepala Biro
Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama BIG Mone Iye Cornelia Marschiavelli.
Peserta selanjutnya meninjau lokasi perkebunan kelapa sawit untuk menyaksikan pelaksanaan uji implementasi. Tim BIG mendemonstrasikan tahapan penandaan geografis menggunakan berbagai metode, mulai dari pengukuran terestris dengan perangkat GNSS hingga akuisisi data geospasial menggunakan drone.
Melalui demonstrasi ini, peserta memperoleh gambaran mengenai proses pengambilan data, penggunaan peralatan, serta perbedaan karakteristik dan tingkat ketelitian setiap metode. Pemahaman ini diharapkan dapat menjadi bekal dalam memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi lapangan sekaligus mendukung penyediaan data geospasial yang akurat dan andal untuk implementasi ISPO.
Station (InaCORS) berkode CKWB yang berada di Stasiun Meteorologi Pangkalan Bun milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kunjungan ini memberikan pemahaman kepada para peserta mengenai peran InaCORS sebagai infrastruktur geospasial nasional yang menjadi referensi koordinat dalam kegiatan survei, pemetaan, dan penandaan geografis.
Pemanfaatan jaringan InaCORS tidak hanya menjamin keseragaman sistem referensi koordinat nasional, tetapi juga meningkatkan ketelitian hasil pengukuran sekaligus menciptakan efisiensi dalam pelaksanaan survei. Dengan memanfaatkan infrastruktur tersebut, kebutuhan pembangunan titik kontrol baru dapat dikurangi, sehingga waktu, biaya, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk pengumpulan data geospasial menjadi lebih optimal.
Reporter: Anggriawan
Editor: Kesturi Haryunani