Kamis, 15 Oktober 2026   |   WIB
id | en
Kamis, 15 Oktober 2026   |   WIB
Museum Gumuk Pasir Diperkenalkan sebagai Sarana Edukasi Sains di Moskow

Moskow, Berita Geospasial – Museum Gumuk Pasir yang dikelola Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir (BGPGP) memperkenalkan pendekatan edukasi geospasial dalam International Science and Tourism Forum ‘Discover ATOM 2026’. Forum internasional ini berlangsung di ATOM Museum, kawasan VDNKh, Moskow, Federasi Rusia, pada 15–17 Oktober 2026.


Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui Kepala BGPGP Seto Baruno mewakili Indonesia memmperkenalkan pendekatan
edukasi geospasial dalam International Science and Tourism Forum ‘Discover ATOM' 2026/dok.BIG

Kepala BGPGP Seto Baruno mewakili Indonesia, sekaligus menjadi salah satu narasumber dalam konferensi pers pembukaan forum pada Rabu, 14 Oktober 2026.

“Melalui Museum Gumuk Pasir, kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian gumuk pasir. Kami mengemas pengetahuan ilmiah menjadi materi edukasi yang menarik, agar masyarakat dapat memahami proses alam sekaligus menyadari manfaatnya bagi kehidupan,” ujar Seto.

Diselenggarakan oleh ATOM Foundation, forum ini mengangkat tema Science as the Language of Homo Futurum atau Sains sebagai Bahasa Manusia Masa Depan. Lebih dari 1.500 peserta dari berbagai negara menghadiri kegiatan ini, termasuk delegasi dari negara-negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa).

Forum ini mempertemukan para pengelola museum, perwakilan pemerintah, pakar sains, dan pelaku pariwisata untuk membahas pengembangan wisata sains serta pemanfaatan museum dan situs warisan dalam memperkuat pertukaran budaya dan diplomasi publik.


Kepala BGPGP BIG bersama para pengelola museum /dok.BIG

Pada sesi konferensi pers, Seto hadir bersama Wakil Menteri Sains dan Pendidikan Tinggi Federasi Rusia Olga Petrova, Wakil Direktur Jenderal Rosatom Tatyana Terentyeva, Direktur Jenderal ATOM Museum Elena Mironenko, Kurator Ilmiah ATOM Museum Alexey Semikhatov, serta perwakilan Iziko Museums of South Africa. Mereka menyoroti pentingnya museum sains dalam menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat melalui pengalaman belajar yang menarik, menyenangkan, dan mudah dipahami.

Seto menjelaskan, Museum Gumuk Pasir menghubungkan pengetahuan geospasial dengan fenomena alam dan kehidupan masyarakat. Melalui materi edukasi yang disajikan, pengunjung dapat mempelajari proses terbentuknya gumuk pasir dari material Gunung Merapi, karakteristik bentang alam pesisir, hingga manfaatnya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Gumuk pasir merupakan bentang alam yang memiliki nilai ilmiah sekaligus penting bagi kawasan pesisir. Karena itu, masyarakat perlu memahami bagaimana gumuk pasir terbentuk, apa perannya, dan mengapa kelestariannya harus dijaga. Kami berharap edukasi di museum dapat mendorong masyarakat untuk lebih mengenal, menghargai, dan ikut melestarikan kekayaan alam tersebut,” katanya.

Pengetahuan yang disampaikan melalui museum juga mendukung upaya restorasi Gumuk Pasir Parangtritis dan pengembangan Geopark Jogja menuju pengakuan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) Global Geopark. Selain aspek alam, Museum Gumuk Pasir mengangkat keterkaitan geospasial dengan warisan budaya Yogyakarta, termasuk Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Pendekatan ini memperlihatkan hubungan antara bentang alam, warisan budaya, dan kehidupan masyarakat dalam memahami karakteristik suatu wilayah.

Keikutsertaan dalam Discover ATOM 2026 juga membuka kesempatan bagi BIG untuk memperluas jejaring dan bertukar pengalaman dengan pengelola museum dari berbagai negara. Seto berharap pertemuan tersebut dapat menjadi awal pengembangan kerja sama antarmuseum, baik dalam penyelenggaraan program edukasi maupun pertukaran pengetahuan lintas negara.

Harapan tersebut sejalan dengan posisi Indonesia sebagai anggota penuh BRICS sejak Januari 2025. Melalui forum internasional seperti Discover ATOM 2026, museum dapat berperan lebih luas sebagai ruang pembelajaran dan pertukaran budaya sekaligus mendukung diplomasi sains antarnegara.

Sebagai informasi, Museum Gumuk Pasir dirintis pada 2001 melalui kerja sama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), yang kini menjadi BIG, dengan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Saat ini, BGPGP mengelola museum tersebut sebagai salah satu unit pelaksana teknis BIG di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keikutsertaan Museum Gumuk Pasir dalam Discover ATOM 2026 menegaskan komitmen BIG untuk membawa pengetahuan geospasial lebih dekat kepada masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan alam Indonesia di tingkat global. Melalui jejaring internasional, BIG juga berpeluang memperkuat diplomasi sains dan mendorong museum Indonesia mengambil peran lebih besar dalam pertukaran pengetahuan lintas negara.

Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir
Editor: Kesturi Haryunani