Senin, 26 Oktober 2026   |   WIB
id | en
Senin, 26 Oktober 2026   |   WIB
Siswa SMKN 2 Bandar Lampung Cari ‘Oleh-Oleh’ Wawasan di BIG

Cibinong, Berita Geospasial – Memahami peta tidak cukup hanya dengan membaca koordinat di atas kertas. Karena itulah, sebanyak 31 siswa kelas XI Jurusan Teknik Geomatika Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Bandar Lampung mengunjungi Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Rabu, 21 Oktober 2026.

“Kami sangat berharap Bapak dan Ibu di BIG dapat memberikan `oleh-oleh` kepada anak didik kami berupa wawasan dan perubahan pola pikir, seperti ‘oh, ini lingkungan yang akan menjadi tempat kerja nanti’, sehingga mereka bisa belajar lebih giat. Kunjungan ini kami harapkan dapat membuka wawasan yang lebih luas melampaui keterbatasan alat dan fasilitas di sekolah,” ungkap Guru Teknik Geomatika SMKN 2 Bandar Lampung Dian Purwantini.

Harapan tersebut menjadi penting bagi siswa sekolah kejuruan yang dipersiapkan memasuki dunia kerja. Pengalaman berinteraksi dengan praktisi dan melihat teknologi yang digunakan dalam survei dapat membantu mereka menghubungkan pengetahuan di kelas dengan kebutuhan profesi yang akan mereka tekuni.

Selama kunjungan, siswa menyaksikan peragaan pengoperasian pesawat nirawak atau drone untuk pemetaan serta diperkenalkan dengan stasiun Continuously Operating Reference Stations (CORS). Kedua teknologi tersebut memberi gambaran tentang pemanfaatan perangkat modern dalam pengumpulan data dan penentuan posisi.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan pemaparan materi. Salah satu materi yang disampaikan terkait penentuan posisi dan gaya berat.

Sukma Nur Oktavia dari Direktorat Sistem Referensi Geospasial menjelaskan bahwa penentuan posisi merupakan proses untuk mengetahui letak suatu titik di permukaan bumi berdasarkan koordinat tertentu. Posisi horizontal dinyatakan melalui lintang dan bujur, sedangkan posisi vertikal berkaitan dengan informasi ketinggian, termasuk tinggi elipsoid dan tinggi ortometrik.

Namun, koordinat saja tidak cukup untuk menghasilkan informasi posisi yang akurat. Pengukuran memerlukan sistem referensi yang jelas agar hasilnya konsisten dan dapat digunakan sebagai acuan bersama.

“Dalam pekerjaan geomatika, ketelitian tidak hanya ditentukan oleh alat yang digunakan, tetapi juga oleh kejelasan sistem referensi yang menjadi acuannya. Data posisi harus terikat pada referensi yang tepat agar hasil pengukuran dapat dibandingkan dan dimanfaatkan secara konsisten,” jelas Sukma.

Antusiasme siswa terlihat hingga penghujung kegiatan melalui kuis interaktif menggunakan Kahoot. Aktivitas tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menguji pemahaman, sekaligus mengulang materi yang telah disampaikan dengan cara yang lebih menyenangkan.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidikan vokasi dengan praktik profesional di bidang geospasial. Bagi siswa, pengalaman melihat teknologi dan mendengarkan penjelasan langsung dari praktisi dapat menjadi gambaran awal tentang kompetensi yang perlu mereka kuasai.

Reporter: Nabila Yuniar Sarasdwiati
Editor: Kesturi Haryunani