Senin, 14 September 2026   |   WIB
en | id
Senin, 14 September 2026   |   WIB
Peta BIG Jadi Panduan Pemulihan Sumbar

Padang, Berita Geospasial – Pemulihan pascabanjir di Sumatera Barat membutuhkan lebih dari sekadar pembersihan wilayah dan perbaikan infrastruktur. Pemerintah juga memastikan setiap langkah pemulihan bertumpu pada gambaran kondisi wilayah yang akurat, agar rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dilakukan secara tepat.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Badan Informasi Geospasial (BIG) melakukan survei dan pemetaan wilayah terdampak banjir di Sumatera Barat pada September hingga November 2026. Kegiatan ini menyasar 16 kabupaten/kota dan bertujuan menyediakan informasi geospasial yang akurat dan terkini sebagai salah satu dasar perencanaan pemulihan pascabencana.

“Dengan adanya kegiatan ini, tentunya sangat membantu kami dalam memitigasi bencana, khususnya banjir di Sumatera Barat. Informasi geospasial seperti ini sangat kami butuhkan dalam melakukan perencanaan, baik sebelum, saat, maupun setelah terjadi bencana,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi saat menerima Tim Satuan Tugas (Satgas) BIG di Padang pada Kamis, 10 September 2026.

Sebelum memulai survei, Tim Satgas BIG berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Koordinasi tersebut membahas kondisi wilayah terdampak, kebutuhan informasi, serta penentuan prioritas survei bersama pemerintah daerah dan unsur penanggulangan bencana.

Tim kemudian bergerak ke sejumlah wilayah untuk melihat langsung kondisi pascabanjir. Beberapa lokasi yang menjadi sasaran antara lain Kabupaten Padang Pariaman, Agam, dan Kabupaten Lima puluh Kota. Selain itu juga Kota Padang Panjang, Bukittinggi, serta Kota Padang.

Memastikan Data Sesuai Kondisi Nyata

Citra satelit dan data penginderaan jauh dapat memberikan gambaran awal mengenai wilayah yang terdampak bencana. Namun, informasi tersebut perlu diverifikasi untuk memastikan kondisi yang tergambar dari data sesuai dengan situasi sebenarnya di lapangan.

Karena itu, Tim Satgas BIG melakukan identifikasi langsung terhadap berbagai perubahan akibat banjir. Tim mengamati kondisi wilayah, infrastruktur, permukiman, serta lingkungan yang berpotensi memengaruhi proses pemulihan.


Hasil pengamatan lapangan kemudian dipadukan dengan data penginderaan jauh dan informasi geospasial lainnya. Kombinasi tersebut diharapkan menghasilkan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi wilayah setelah bencana.

Informasi yang lebih akurat akan membantu pemerintah menentukan kebutuhan penanganan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah, bukan semata berdasarkan perkiraan luas area terdampak.

Data yang dikumpulkan BIG selanjutnya diarahkan untuk mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi wilayah prioritas, melihat kondisi infrastruktur dan permukiman, serta menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi pembangunan kembali.

Pendekatan berbasis informasi geospasial juga memungkinkan pemerintah mempertimbangkan karakteristik wilayah dan kondisi lingkungan dalam proses pemulihan. Dengan demikian, pembangunan kembali tidak hanya berorientasi pada pemulihan kondisi sebelum bencana, tetapi juga dapat diarahkan agar lebih aman dan sesuai dengan kondisi wilayah.

BIG akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta kementerian/lembaga terkait. Sinergi tersebut diperlukan untuk menggabungkan berbagai sumber informasi sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan secara lebih komprehensif.

Survei di 16 kabupaten/kota dilaksanakan secara bertahap hingga November 2026 dengan mempertimbangkan kondisi dan prioritas setiap wilayah. Hasilnya akan dipadukan dengan data geospasial BIG dan sumber informasi lainnya untuk mendukung perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan rehabilitasi serta rekonstruksi.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, BIG menempatkan informasi geospasial sebagai bagian penting dalam siklus penanggulangan bencana. Data yang akurat membantu pemerintah mengenali risiko sebelum bencana, memahami dampak ketika bencana terjadi, dan menentukan arah pemulihan setelah bencana.

Reporter: Reporter: Mone Iye Cornelia Marschiavelli & Ferrari Pinem
Editor: Kesturi Haryunani